
Nampaknya konflik internal PGRI semakin memperlihatkan mind master di belakangnya. Hal ini dapat dianalisis setelah kasus mosi tidak percaya dari segelintir pengurus provinsi yang telah dibantah telak melalui Rakornas PGRI kemarin. Dalam Rakornas puluhan provinsi membantah ikut melakukan mosi dan klarifikasi bahwa nama-nama mereka dicatut kelompok sempalan ini. Kini, beredar di grup-grup pernyataan dari kelompok yang menamakan tim 9 dari Pengurus Besar yang arus pernyataannya senafas dengan kelompok tim mosi itu.
Kelompok tim 9, tampik seolah bak pahlawan demi kebesaran PGRI, untuk mencegah perpecahan meluas. Padahal, cara tim 9 ini justru menguatkan dugaan merekalah mind master konflik ini dan justru menyulut perpecahan lebih luas. Cara mereka bukan membesarkan justru mengerdilkan dan cenderung menyebarluaskan aib-aib internal PGRI ke publik. Pertanyaannya, apakah kelompok tim 9 ini lebih baik kinerjanya dibandingkan ketum dan jajarannya? Apakah mereka tidak punya aib dan cela sehingga merasa dapat menyelamatkan ‘perahu’ PGRI. Menurut data dan informasi dari pengurus PB yang lain dan aktif, bahwa kelompok tim 9 ini justru kurang aktif dan nirprestasi dalam tubuh PB PGRI. Mereka jarang hadir rapat pleno, dan tidak pro-aktif menjalankan program-program dan kerja-kerja organisasi. Jadi publik dan anggota PGRI jangan tertipu dengan manuver mereka. Bukan, mereka yang membesarkan PGRI tapi justru ingin menghancurkan PGRI yang perlahan namanya semakin mencuat dan harum di kalangan grass root guru-guru karena kinerjanya selalu berupaya membela kepentingan guru.
Pernyataan tim 9 ini bak jurus dewa mabuk dalam film-film kungfu karena substansi dan semangatnya hanya menyerang pribadi Ketua Umum yang sah kepemimpinannya hasil kongres dan mereka turut menyukseskan sehingga awalnya ikut dalam perahu yang sama. Tapi karena kepentingan pribadi dan kelompok membuat gelap mata sehingga jurus mabuk dikeluarkan menyerang membabi buta dan cenderung destruktif bagi organisasi. Serangannya di jalanan tanpa melalui forum organisasi. Mereka menyadari jika bertarung di forum resmi organisasi seperti Kongres dan Konkernas, mereka akan kalah telak. Karena itu, serangan akan terus dilakukan sebelum kongres dilakukan untuk menjegal Prof. Unifah tampil kembali memimpin PGRI.
Tapi kelompok 9 lupa, jika sepandai-pandainya manusia pembuat makar, maka tetaplah Allah lah yang terbaik dalam membuatnya. Ingat kebenaran pasti akan menemukan jalannya.
Untuk kader pengurus, anggota, dan bahkan publik harus mewaspadai manuver jahat kelompok yang hanya menghancurkan organisasi dengan menyerang kepemimpinan yang sah. Rapatkan barisan di daerahnya masing-masing. Konsolidasikan dan sebarkan berita yang benar agar anggota dan pengurus tidak terjebak dengan berita bohong mereka.
Kader pengurus PGRI dari Sabang sampai Merauke
