RATUSAN GURU MENOLAK KEBIJAKAN BANK NTT CABANG LARANTUKA TERKAIT PEMBERHENTIAN PEMOTONGAN PINJAMAN KE BANK LAIN

Ratusan Guru di Kabupaten Flores Timur mengadu ke Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyatakan menolak adanya kebijakan dari Bank NTT Cabang Larantuka yang tidak lagi melakukan pemotongan atas kewajiban pinjaman di bank lain. Melalui surat yang dikeluarkan pada 26 Juli 2024, pihak Bank NTT Cabang Larantuka menyatakan dua point, diantaranya pertama, terhitung tanggal 1 Agustus 2024, Bank NTT Cabang Larantuka tidak lagi melakukan pemotongan atas kewajiban pinjaman di bank lain (Bank Mandiri, BRI, BNI dan Bank Mandiri Taspen). Kedua, hal-hal yang berkaitan dengan pemotongan kewajiban oleh Bendahara dapat dikumunikasikan dengan petugas Bank NTT.

Merespon kebijakan Bank NTT Cabang Larantuka ini, sejumlah guru yang tidak mau namanya disebutkan datang bertemu dengan Pengurus PGRI Kabupaten Flores Timur dan menyatakan sikap menolak kebijakan tersebut. Tidak hanya itu, ramai di grup-grup Guru PGRI Flores Timur dituliskan pernyataan sikap menolak kebijakan Bank NTT Cabang Larantuka. Hal yang paling banyak mencuat dari alasan para guru yakni, kalau ambil gaji utuh di Bank NTT, lalu guru harus datang setor sendiri lagi di Bank Lain, bagaimana waktu yang harus disesuaikan dengan jama Kegiatan Pembelajaran di sekolah, termasuk bagaimana transportasi dan akomodasi lain yang disiapkan untuk urusan seperti ini.

Menyikapi aspirasi ini, Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur mengatakan bahwa pihak Bank NTT Cabang Larantuka sebagai bank milik daerah tentu tidak menyulitkan para guru sebagai nasabah. Selama ini, Bank NTT sudah banyak membantu guru untuk membuka pinjaman di sana, termasuk kontribusi besar untuk daerah. Namun jika ada kebijakan yang ditolak oleh Guru, kewajiban PGRI untuk mencermati dan memberikan pandangan.

“Selama ini, Bank NTT sudah banyak membantu guru untuk membuka pinjaman di sana, termasuk kontribusi besar untuk daerah. Namun jika ada kebijakan yang ditolak oleh Guru, kewajiban PGRI untuk mencermati dan memberikan pandangan. Bagi PGRI Flores Timur, jika guru harus sendiri mengambil gaji utuh dari Bank NTT, dan melakukan penyetoran sendiri kewajiban pinjaman di bank lain, dapat dibayangkan begitu sulitnya guru. Bagaimana ia harus mengatur waktu mengajar lalu harus ke Bank. Di tengah ekonomi yang lesu ini, guru Flores Timur harus menyiapkan lagi dana khusus untuk transportasi dan akomodasi lainnya, ini tentu sangat menyulitkan. Apa yang menjadi alasan yang paling hakiki atas kebijakan ini? Selama ini telah dengan baik Bendahara Dinas PKO Flores Timur membuat daftar potongan Bank lain dan Bank NTT melakukan pemotongan sesuai daftar itu dan aman, tidak ada persoalan dari para guru. PGRI Flores Timur berharap , pola lama yang sudah baik itu tetap dipertahankan,”kata Maksi.

Maksi Masan Kian juga berharap, karena masalah ini menyetuh persoalan publik maka Penjabat Bupati Flores Timur, Sekretaris Desa Kabupaten Flores Timur kiranya bisa hadir mengurai persoalan ini dan memberikan jalan keluar yang tidak menciptakan polemik.

“Masalah ini menyetuh persoalan publik maka PGRI Flores Timur berharap, Penjabat Bupati Flores Timur, Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur kiranya bisa hadir mengurai persoalan ini dan memberikan jalan keluar yang tidak menciptakan polemik. Tetap kembali pada pola sebelumnya yang aman dan tidak ada masalah. Jika tidak ada masalah lalu kita ubah dan menjadi masalah, apakah kita memilih yang bermasalah itu? Tentu tidak! (Humas PGRI Flotim)

Scroll to Top