
Wilbrodus Konstantinus Wungbelen/ Kepala SMPN 1 Lewolema
Di sebuah ruang kelas sederhana yang diterangi proyektor digital, anak-anak SMP Negeri 1 Lewolema tampak sibuk mengikuti ujian. Bukan dengan kertas soal, tapi lewat tayangan teks dari infokus yang terpampang di layar putih. Di balik ide semi-digitalisasi ini, ada sosok tenang bernama Wilbrodus Konstantinus Wungbelen, S.Pd. Pemimpin yang tak banyak bicara, tetapi hasil kerjanya berbicara lantang.
Putra Adonara ini, lahir di Larantuka pada 6 Januari 1970. Wilbrodus sejak kecil telah akrab dengan nilai-nilai kerja keras dan kedisiplinan yang ia dapat dari Ayah dan Ibunya. Pendidikan dasarnya dimulai di SDK Larantuka 1, dilanjutkan ke SMPN 1 Larantuka dan SMAN 1 Larantuka. Semangat belajar yang tinggi mengantarkannya ke Universitas Negeri Nusa Cendana, Kupang, tempat ia menimba ilmu hingga menjadi seorang sarjana Pendidikan, Program Studi Bahasa Inggris.
Kariernya sebagai guru dimulai sebagai guru honorer di SMAK St. Darius Larantuka pada 1998. Setahun kemudian, ia resmi menjadi PNS dan ditugaskan di SMPN 1 Nubatukan, Lembata, sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahiran dan mengabdi di Almamater SMPN 1 Larantuka selama hampir dua dekade (2002–2020).
Di SMP Negeri 1 Larantuka, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, lalu Kesiswaan. Dari jabatan-jabatan itu, Wilbrodus tak hanya belajar tentang manajemen sekolah, tetapi juga memahami betul denyut kebutuhan para guru dan murid. Sosok yang sangat memahami manajemen pendidikan di SMPN 1 Larantuka.
Ketika akhirnya ia dipercaya memimpin SMPN 1 Lewolema, Wilbrodus menjawab tantangan dengan pendekatan yang tidak biasa. Ia mengutamakan transparansi, membuka ruang komunikasi, dan menjadikan kritik sebagai vitamin untuk kemajuan. Kepemimpinannya tidak otoriter, tapi mengayomi dan penuh keberanian dalam mengambil keputusan.
Bersama timnya, Wilbrodus merancang program tematik pendidikan karakter Mingguan. Tiap Selasa dan Jumat, sekolahnya diramaikan oleh kegiatan literasi dan numerasi yang menjadi bagian dari rutinitas yang membangun. Bagi Wilbrodus, pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga soal pembentukan karakter anak-anak bangsa. Selain itu, Kepala Sekolah berprestasi ini melakukan terobosan di bidang akademik yakni “Sabtu Produktif”. Sabtu Produktif yakni, satu hari dalam satu pekan yaitu di Hari Sabtu, secara internal sekolah diselenggarakan kegiatan Edukatif antar Guru. Secara bergantian mulai dari Kepala Sekolah dan Guru membagikan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki masing- masing. Program ini menjadi salah satu ikon sekolah. Kemudian lahir program Kementerian Pendidikan Guru memiliki satu hari dalam satu minggu untuk belajar meningkatkan kompetensinya, SMPN 1 Lewolema sudah memulainya sejak kepemimpinan Wilbrodus Wungbelen.
Meskipun sekolahnya berada di daerah dengan keterbatasan akses internet, ia tak menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerah pada zaman. Ia menginisiasi ujian berbasis semi-digital: soal diketik dan ditampilkan lewat infokus di setiap ruang kelas. Ini bukan hanya efisiensi, tetapi juga langkah nyata menuju pembelajaran abad ke-21, meski dari pelosok Nusa Tenggara Timur.
Di bidang manajemen, Wilbrodus menerapkan laporan keuangan yang tertib dan transparan. Setiap keputusan keuangan sekolah disampaikan secara terbuka, dan ia melibatkan semua pihak untuk turut serta merumuskan arah pembangunan sekolah. Ia pun tak segan membuka pintu ruang kerjanya bagi ide-ide dari guru maupun tenaga kependidikan lainnya.
Tak heran jika kiprah Wilbrodus mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Ia bukan hanya pemimpin sekolah, tapi juga panutan di dunia pendidikan Flores Timur. Sebelum ramai ruang apresiasi kepada guru saat ini, tahun 2008 menjadi titik awal pengakuan itu: ia dinobatkan sebagai Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Flores Timur, dan tak lama kemudian naik ke panggung tingkat Provinsi NTT sebagai Guru Berprestasi pula.
Setahun berselang, predikat Guru Teladan tingkat SMP Kabupaten Flores disematkan padanya. Bukan karena pidato atau pencitraan, tapi karena bukti nyata dari kerja keras dan keteladanannya di lapangan.
Pada 2017, ia kembali mengukir prestasi dengan meraih sertifikat Calon Kepala Sekolah (CKS) Terbaik tingkat Kabupaten Flores Timur. Tak hanya itu, tahun 2018 ia dipercaya sebagai Narasumber Pelatihan Kurikulum 2013 bagi guru Bahasa Inggris SMP se-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah penghargaan tak tertulis bahwa suaranya didengar, gagasannya ditiru, dan pengalamannya diandalkan.
Jejak Pelatihan: Guru yang Terus Belajar
Meski telah banyak menginspirasi, Wilbrodus tak pernah merasa cukup. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan dan workshop, dari penataran guru mata pelajaran Bahasa Inggris (2002), hingga pelatihan penyusunan RPP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006), serta PLPG tahun 2007.
Ia juga terlibat dalam pelatihan SMART TEACHER (2008), pelatihan pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran (2011), dan menjadi peserta dalam berbagai pelatihan tingkat provinsi dan nasional terkait pengembangan kurikulum dan kompetensi guru.
Keaktifannya ini menjadi bukti bahwa ia selalu menjaga semangat belajar, seolah ingin menunjukkan bahwa menjadi guru tak berarti berhenti belajar malah justru harus terus belajar agar bisa terus mengajar dengan relevan.
Selain kiprahnya di ruang kelas dan kantor kepala sekolah, Wilbrodus juga aktif dalam organisasi profesi. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris PGRI Cabang Larantuka (2015–2020), dan kini masih menjabat sebagai Sekretaris Bidang Kaderisasi dan Organisasi PGRI Kabupaten Flores Timur (2020–2025). Dari sinilah ia berperan membina solidaritas antar pendidik dan memperjuangkan kesejahteraan para guru.
Kepeduliannya pada lingkungan sosial juga terasa kental. Pada momen-momen penting seperti Hari Guru atau Hari Besar Nasional, ia mendorong adanya kegiatan donasi bagi warga sekitar yang membutuhkan. Pendidikan, bagi Wilbrodus, bukan hanya tugas formal negara, tetapi tanggung jawab moral untuk ikut menumbuhkan empati dalam komunitas.
Wilbrodus dikenal sebagai pribadi yang tidak suka banyak bicara. Ia lebih memilih mendengar, merangkum, lalu bertindak. Hasilnya jelas: lingkungan sekolah yang kondusif, guru-guru yang merasa dihargai, siswa-siswa yang semangat belajar, dan masyarakat yang percaya pada kepemimpinannya.
Ia tak pernah menciptakan konflik di antara rekan kerja. Justru menjadi jembatan bagi guru-guru untuk bertumbuh profesional, menjalin komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah, serta membuka peluang kepada siswa untuk mengeksplorasi bakat dan potensi mereka.
Melihat konsistensinya, Wilbrodus pantas dipercaya untuk memimpin sekolah yang lebih besar, dengan tantangan yang lebih luas. Dalam dirinya terkandung kombinasi ideal antara integritas, keheningan yang menenangkan, dan aksi nyata yang tak terbantahkan.
Dalam dunia pendidikan yang sering kali diwarnai birokrasi dan stagnasi, hadirnya sosok seperti Wilbrodus adalah oase. Ia adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan tidak harus bising, tidak harus penuh sorotan, tetapi harus nyata dan berdampak.
