
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur menyampaikan apresiasi tinggi kepada Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur atas terlaksananya Focus Group Discussion (FGD) Bidang Pendidikan Tahun 2025. Forum yang dilaksanakan di Ruang Rapat Bupati Flores Timur itu dipimpin langsung oleh Bupati Antonius Doni Dihen, didampingi oleh Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan.
FGD yang terlaksana pada Rabu (23/4/25) tersebut membahas empat aspek utama pembangunan pendidikan, yaitu aksesibilitas, kualitas, relevansi, dan tata kelola. Selain itu, forum juga menyoroti kerja sama strategis dengan Google Indonesia untuk mendukung percepatan digitalisasi sekolah, menyusun rencana tematik karakter bulanan bagi siswa, serta membahas konsep future school yang visioner dan inovatif.
Ketua PGRI Flores Timur, Maksimus Masan Kian, mengungkapkan kekagumannya atas pola komunikasi dan kolaborasi yang diterapkan oleh Bupati dan Wakil Bupati. Ia menyebut pendekatan yang dilakukan sangat terbuka dan humanis. “Jarang sekali seorang Bupati bisa dengan rendah hati menghubungi warganya untuk berdiskusi, saling bertukar gagasan, lalu mengundang berbagai pihak untuk duduk bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Maksimus mengatakan bahwa forum ini bukan hanya menjadi ruang diskusi, melainkan juga ajang untuk menjaring gagasan dan menyusun langkah strategis ke depan. Ia menilai bahwa perhatian Bupati terhadap pokok-pokok pikiran dari peserta forum mencerminkan kepemimpinan yang partisipatif dan kolaboratif, bukan sekadar formalitas birokratis.
Dalam forum tersebut, Bupati Anton Doni Dihen mendorong agar diskusi tidak berhenti pada tataran konsep, melainkan benar-benar melahirkan gagasan nyata yang dapat menjawab tantangan zaman. Ia mengajak peserta untuk berani berimajinasi, berinovasi, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.
Romo Ancis Kwaelaga pada kesempatan itu, menambahkan pentingnya penguatan karakter siswa melalui program tematik bulanan yang relevan dengan konteks lokal Lamaholot. Ia menyebut bahwa pendidikan di Flores Timur harus mampu menanamkan nilai lokal, sekaligus mempersiapkan generasi yang tangguh menghadapi dunia global.
Forum ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kepala Badan Keuangan Daerah, organisasi profesi guru, Koordinator Pengawas SMA/K, Rohaniwan, budayawan, tokoh pendidikan, serta perwakilan kepala sekolah dan guru dari berbagai jenjang.
PGRI menilai forum seperti ini merupakan bukti bahwa pemerintah daerah memiliki komitmen kuat terhadap pembenahan dan pengembangan sektor pendidikan. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, kebijakan yang dihasilkan akan lebih kontekstual, responsif, dan berorientasi pada masa depan anak-anak Flores Timur. (Humas PGRI Flores Timur)
