Hari Pertama Webinar, Pendidikan Karakter Angkat Topik “Kreator Muda Berkarya”

Hortesia Herima/ Narasumber/ Kepala SMKN 2 Komodo

Webinar Pendidikan Karakter edisi Bulan Edukasi 2025 resmi dimulai dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Di hari pertama ini, webinar mengangkat topik inspiratif bertajuk “Kreator Muda Berkarya! Menggali Potensi Siswa melalui Karya Buku Ber-ISBN”. Acara berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 18.30 WITA

Webinar ini diselenggarakan oleh PGRI Kabupaten Flores Timur sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pengembangan pendidikan karakter di wilayah tersebut. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Program Kerja 100 Hari Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur, Ir. Antonius Doni Dihen dan Ignasius Boli Uran, S.Fil, khususnya dalam hal penerapan Pendidikan Karakter Tematik di sekolah-sekolah.

Acara dibuka secara resmi oleh Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa webinar ini adalah wujud komitmen PGRI dalam menyukseskan program prioritas pemerintah daerah, serta memperkuat praktik pendidikan yang menumbuhkan karakter dan kreativitas siswa.

Sebagai narasumber utama, hadir Ibu Hortensia Herima, Kepala SMKN 3 Komodo, Labuan Bajo. Beliau membagikan praktik baik dalam mengembangkan potensi siswa melalui penerbitan buku ber-ISBN, menjadikan siswa bukan sekadar pembaca, tetapi juga penulis yang produktif dan percaya diri.

Dalam pemaparan awalnya, Hortensia menekankan pentingnya sekolah sebagai ruang untuk menggali potensi unik setiap siswa. Ia menyampaikan bahwa pengembangan karakter tidak hanya melalui pembelajaran akademik, tetapi juga melalui ekspresi kreatif seperti menulis dan berkarya.

Lebih lanjut, Hortensia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama pendidikan saat ini adalah kurangnya ruang bagi kreativitas siswa. Kurikulum yang cenderung fokus pada aspek kognitif membuat potensi non-akademik siswa sering kali terabaikan. Padahal, kreativitas adalah bagian penting dari kecakapan abad 21.

Selain itu, rendahnya kepercayaan diri siswa dalam menulis, kurangnya akses terhadap media publikasi yang sah (seperti buku ber-ISBN), dan dominasi budaya konsumtif di era digital menjadi hambatan lain yang harus dihadapi. Webinar ini hadir sebagai respon terhadap tantangan-tantangan tersebut.

Dalam sesi strategi, Hortensia memaparkan langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah untuk memfasilitasi siswa berkarya. Prosesnya dimulai dari identifikasi minat dan bakat siswa, pelatihan menulis dan editing, hingga kolaborasi dengan penerbit. Ia juga menekankan pentingnya peran guru sebagai mentor yang mengarahkan proses kreatif siswa.

Salah satu contoh nyata keberhasilan strategi ini adalah penerbitan buku “Aroma Waktu”, antologi fiksi mini karya siswa SMKN 3 Komodo. Buku ini telah resmi terbit dan memiliki ISBN. Prosesnya melibatkan seleksi karya, bimbingan menulis, serta kurasi dan editing oleh editor profesional, Mustakim.

Salah satu karya yang mendapat sorotan khusus adalah cerita berjudul “Buku Bisa Bicara”, ditulis oleh Ludowikus Konedi Setiawan, siswa kelas X jurusan Ekowisata dan Wisata Bahari. Cerita tersebut dinilai menyentuh dan menggambarkan kekuatan literasi dalam mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia.

Visualisasi karya siswa seperti sampul buku “Aroma Waktu”, kutipan cerita, serta daftar nama penulis dari lintas jurusan ditampilkan dalam slide, menambah semangat para peserta webinar. Hal ini menunjukkan bahwa setiap siswa dari jurusan apa pun memiliki potensi kreatif yang bisa diasah.

Dalam paparannya, Hortensia juga menyebutkan berbagai manfaat positif dari kegiatan penerbitan buku siswa. Selain meningkatkan literasi dan percaya diri, karya ber-ISBN juga menjadi portofolio akademik yang membanggakan dan bisa digunakan dalam berbagai seleksi atau beasiswa.

Salah satu peserta, Marselinus Minggus, S.Pd, menyampaikan kesan mendalam terhadap pemaparan narasumber. Ia mengatakan, “LUAR BIASA narasumber. Saya sangat berkesan dengan pengalaman anak-anak, di mana ketika mereka on the job training di dunia kerja, mereka akan dipanggil lagi untuk bekerja ketika tamat. Saya mengapresiasi bahwa mereka mengimplementasikan pengetahuan dalam nyata, sehingga mereka positif di mata perusahaan. SALUT!”

Webinar ini tidak hanya menginspirasi, tetapi juga memberikan panduan implementasi yang sistematis. Dari membentuk tim literasi sekolah, mengadakan pelatihan, hingga menjalin kerja sama dengan penerbit, semua langkah dipaparkan secara runtut dan aplikatif.

Dalam sesi penutup, narasumber menyampaikan bahwa menggali potensi siswa melalui karya kreatif adalah investasi masa depan. Buku ber-ISBN menjadi bukti nyata dari proses belajar yang bermakna dan berdampak. Sekolah harus berani menjadi rumah bagi lahirnya para kreator muda.

Sesi tanya jawab pun berlangsung aktif. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan tentang cara memulai proyek literasi di sekolah mereka, teknis penerbitan buku, hingga cara menjaga semangat siswa agar tetap konsisten berkarya. Hortensia menjawab dengan antusias dan memberi dorongan motivasi kepada semua peserta.

Webinar hari pertama ini ditutup dengan salam literasi dari SMKN 3 Komodo, Labuan Bajo. Para peserta tampak terinspirasi dan termotivasi untuk menerapkan langkah-langkah konkret dalam memfasilitasi siswa menjadi kreator muda yang tidak hanya berkarya, tetapi juga berdampak. (Humas PGRI Kabupaten Flores Timur)

Scroll to Top