Webinar Pendidikan Karakter: SDK Lamennais Tegaskan Komitmen Jumat Bersih, Bank Sampah dan Pengelolaan Sampah di Sekolah

Pada hari kedua rangkaian Webinar Pendidikan Karakter yang diselenggarakan oleh PGRI Kabupaten Flores Timur, Kamis (22/5/25), salah satu sesi yang menarik perhatian publik pendidikan adalah paparan inspiratif dari Fransikus Xaverius Gua Making, Bs.Ed, S.Pd, Kepala SDK La Mennais, yang membawakan materi bertajuk “Sekolah Bersih, Hati Bersih”.

Melalui forum virtual tersebut, SDK Lamennais kembali menunjukkan kepeloporannya dalam membentuk karakter peserta didik melalui program terintegrasi yang tidak hanya menekankan pentingnya kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga kebersihan hati dan nilai-nilai spiritualitas.

Dalam paparannya, Fransikus menjelaskan bahwa kebersihan sekolah bukanlah urusan teknis semata, melainkan bagian dari spiritualitas pendidikan yang dalam: cermin fidelitas dalam hal kecil, tindakan kasih yang konkret, serta ekspresi kehadiran Allah dalam keseharian anak-anak.

“Bersih itu kasih. Ketika anak-anak membersihkan kelas dan lingkungan, mereka sedang belajar mencintai dalam tindakan nyata, bukan sekadar kata,” tutur Fransikus yang disambut dengan antusias oleh peserta webinar.

Program unggulan yang rutin dijalankan adalah Jumat Bersih, Bank Sampah, dan Pengelolaan Sampah yang melibatkan semua elemen guru, siswa, pegawai, hingga orang tua dalam aksi nyata menciptakan lingkungan bersih dan sehat. Kegiatan dimulai sejak pagi dengan pengecekan kebersihan fisik siswa dan bekal makanan, dilanjutkan kerja bakti bersama membersihkan kelas dan lingkungan sekitar, serta edukasi singkat tentang pentingnya kebersihan dan pengelolaan sampah. Bahkan ekstrakurikuler “Dokter Cilik” turut dilibatkan sebagai agen perubahan.

SDK Lamennais juga menerapkan berbagai praktik baik pengelolaan sampah, seperti larangan jualan di area sekolah, pelarangan membawa jajanan, tidak menyediakan kue ulang tahun saat perayaan, serta pemberian apresiasi kepada siswa yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Tidak hanya itu, sekolah menyiapkan banyak kotak sampah, papan informasi, kata-kata motivasi, dan flayer edukatif yang menyebar di seluruh area sekolah. Semua ini menjadi bagian dari narasi edukatif yang membentuk kebiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab.

Dampak program ini sangat terasa. Lingkungan yang bersih membuat anak-anak lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian. Tamu dan guru baru pun kerap mengungkapkan kesan mendalam hanya dari melihat suasana dan mencium udara segar di lingkungan sekolah.

“Sekolah bersih adalah panggung cinta, ruang Tuhan berjalan, dan branding tanpa brosur,” tegas Kepala SDK Lamennais di penghujung webinar.

Sebagai penutup, SDK Lamennais menegaskan bahwa kebersihan bukan sekadar rutinitas, melainkan nilai inti pendidikan yang harus ditanamkan sejak dini melalui pola edukatif dan konsisten. Kebersihan menjadi ‘guru diam’ yang mendidik tanpa kata.

Sebuah kutipan yang terpajang di sudut sekolah merangkum seluruh semangat gerakan ini:
“Kalau lantai sekolah saja kotor, bagaimana anak-anak bisa percaya bahwa hidup mereka pantas ditata dengan indah? (Humas PGRI Flores Timur)

Scroll to Top