Yan Surachman: Percaya Diri, Kunci Pengembangan Diri Siswa

Yan Surachman/ Founder Komunitas Jejak Zaman

Dalam sebuah sesi berbagi inspiratif, Webinar Pendidikan PGRI Flores Timur Senin (26/5/25) Yan Surachman, Guru IPA SMP Negeri 1 Lewolema yang juga dikenal sebagai Founder komunitas literasi Jejak Zaman, membawakan materi bertema “Upaya Peningkatan Percaya Diri Siswa”. Materi ini menjadi sorotan karena membahas persoalan krusial yang kerap dihadapi siswa dalam proses pembelajaran: rasa percaya diri yang rendah.

Menurut Yan, percaya diri merupakan keyakinan akan kemampuan diri untuk berhasil dalam situasi tertentu. Rasa percaya diri yang sehat akan mendorong siswa untuk lebih aktif, berani mencoba, dan gigih menghadapi tantangan. Sebaliknya, kurangnya rasa percaya diri biasanya ditandai dengan perilaku seperti enggan berpartisipasi, mudah menyerah, cemas berlebihan, dan tidak menyelesaikan tugas.

Ia menegaskan bahwa setiap sekolah menghadapi problem kepercayaan diri, terlebih pada siswa baru yang masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Oleh karena itu, perlu ada intervensi yang sistematis dan penuh empati dari para pendidik untuk membantu siswa tumbuh dengan rasa percaya diri yang kuat.

Dalam pemaparannya, Yan juga mengutip sejumlah penelitian yang menawarkan metode peningkatan percaya diri. Di antaranya adalah program konseling pelajar, pemberian pujian yang tulus, penggunaan media sosial secara positif, serta pendekatan berbasis cinta tanpa syarat dan pengalaman sosial yang bermakna.

Dampak dari kepercayaan diri siswa tak hanya terlihat dalam aspek emosional, tapi juga akademik. Peserta didik yang percaya diri terbukti lebih aktif di kelas, memiliki ketahanan mental yang baik, serta mampu menjalin hubungan sosial yang sehat dengan guru dan teman sebaya. Mereka juga terdorong untuk mengeksplorasi minat dan bakat secara optimal.

Yan juga membedakan antara konsep self-efficacy, self-esteem, dan self-concept dalam penguatan karakter siswa. Ia menjelaskan bahwa ketiga konsep tersebut dibentuk melalui lingkungan yang mendukung, seperti keluarga, komunitas, pendidikan formal, hingga peran para pakar.

Di kelasnya, Yan memberikan ruang ekspresi yang luas bagi siswa. Mulai dari memimpin doa, menyampaikan ide, hingga presentasi kelas, siswa dilibatkan secara aktif. Ia juga memberikan apresiasi dan ruang refleksi, menciptakan iklim pembelajaran yang inklusif dan mendukung pertumbuhan percaya diri.

Tidak hanya di ruang kelas, Yan juga mendorong siswa mengekspresikan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ia membaca dan mengapresiasi karya puisi siswa serta mendorong pelaksanaan lomba menulis, melukis, dan fotografi. Semua ini bertujuan agar siswa merasa dihargai dan bangga atas capaian kreatif mereka.

Di akhir sesi, Yan menegaskan bahwa peningkatan percaya diri bukanlah hasil yang instan, melainkan buah dari proses yang konsisten dan terintegrasi di seluruh area pembelajaran. Ia menyebut bahwa siswa yang percaya diri akan lebih siap menerima tantangan, tampil percaya diri di depan umum, dan bahkan menunjukkan peningkatan prestasi akademik.

Dengan materi yang disampaikan penuh semangat dan refleksi pengalaman nyata di lapangan, Yan Surachman memberikan inspirasi bagi para pendidik lain untuk menjadikan percaya diri sebagai prioritas dalam pendidikan karakter siswa. Seperti namanya, Jejak Zaman, ia ingin meninggalkan jejak perubahan positif dalam dunia pendidikan Flores Timur dan Indonesia secara lebih luas. (Humas PGRI Flores Timur)

Scroll to Top