Festival Nusa Solor Mengangkat Tema     “Tite Kiwan Noon Watan, Tite Kaka Noon Arin” Apa Latar Belakangnya?

Setelah sukses melaksanakan even besar Festival Bale Nagi di Taman Kota Felix Fernades Larantuka, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur kembali menggelar Festival Budaya di tahun 2023 di Pulau Solor. Festival Budaya di Pulau Solor akan dilaksanakan pada Rabu- Kamis (22-23/6/23) di Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur dengan tema yang diusung yakni “Tite Kiwan Noon Watan, tite Kaka Noon Arin”

Katarina M. Rin Riberu, S.Ip., M.Si, Pelaksana Tugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Kabupaten Flores Timur

Katarina M. Rin Riberu, S.Ip., M.Si, Pelaksana Tugas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur mengatakan, hal yang menjadi latar belakang pelaksanaan Festival Budaya di Pulau Solor yakni, Pulau Solor memiliki posisi yang stategis terutama dalam peta perdagangan, ekonomi, agama dan politik di masa lalu. “Wilayah Flores bagian Timur dan gugusan pulau di sekitarnya di masa lalu dikenal dengan  nama Kepulauan Solor. Sejak abad ke VII sudah banyak perdagang yang datang ke Solor. Komoditi utamanya adalah cendana putih dan belerang. Abad XIII pulau Solor menjadi basisnya kerajaan Majapahit dalam perluasan wilayah ke bagian Timur. Pasca Majapahit, Solor berada di bawah kekuasaan Ternate dan kemudian diperebutkan oleh Portugis dan Belanda,”kata Rini.

Ia juga mengatakan, selain memiliki posisi yang strategis, masyarakat Solor memiliki interaksi budaya yang intens dan beragam di masa lalu, pun konsentrasi hunian masyarakat telah menciptakan dua kelompok budaya yakni: kiwan dan watan. “Kiwan identik dengan masyarakat yang menetap di wilayah lebih dalam (daratan, gunung) dan bermata pencaharian utama sebagai petani (peladang), penganyam, penenun, penyadap tuak. Sedangkan watan bermukim di pesisir pantai yang bermata pencaharian sebagai pelaut (pencari ikan) dan pedagang,”ungkap Rini.

Silvester Petara Hurit, Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur

Selain yang diutarakan oleh PLT Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, Silvester Petara Hurit, Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur menambahkan bahwa di Pulau Solor, dua kelompok budaya ini tumbuh berdampingan dalam ketergantungan yang produktif dan saling menopang. “Di masa lalu, terjadi barter kebutuhan antara kiwan yang petani dan watan yang nelayan. Karena saling tergantung itulah menciptakan kearifan saling jaga, saling topang sebagai “kaka noon arin” (kaka dan adik/saudara) dalam koeksistensi bersama di tanah  Lamaholot (Solor). Dinamika politik dan budaya di masa lampau juga menciptakan polarisasi Kiwan yang lebih identik dengan Katolik dan watan dengan Muslim. Namun polarisasi semacam ini tak menciptakan konflik tetapi justru melahirkan budaya toleransi, saling rawat, saling menghormati dan menopang.  Ini menjadi kekayaan dan kekuatan hidup bersama yang perlu senantiasa dirawat,”ungkap Silvester.

Latar belakang di atas, mendorong pelaksanaan Festival Nusa Solor kali ini sebagai bentuk pengakuan dan perayaan budaya kiwan-watan sebagai kekayaan, kekuatan dan kebangaan dalam konteks hidup bersama yang egaliter dan penuh keindahaan persaudaraan. (Humas PGRI Flores Timur)

Scroll to Top