
Sekolah Menengah Agama Katolik St. Fransiskus Asisi Larantuka atau biasa dikenal SMAK Fransal adalah salah satu Sekolah berciri Agama Katolik pertama di Flores Timur. Lembaga Pendidikan ini berada di bawah naungan Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores Timur (Yapersuktim) Keuskupan Larantuka dan juga Kementerian Agama. Sudah sembilan tahun sekolah ini berdiri. Walau masih seumur jagung namun kehadiran SMAK Fransal sangat diperhitungkan di Kabupaten Flores Timur dalam dunia Pendidikan. Hal yang memengaruhi yakni sekolah ini memiliki kekhususan pendidikan Pastoral Gereja yang nampak dalam mata pelajaran keagamaannya diantaranya, Pastoral Katekese, Kitab Suci, Doktrin Gereja dan Moral Kristiani, Sejarah Gereja, Ketrampilan Animasi, dan Pendidikan Seni (Musik Liturgi) serta program – program lain yang dapat mengembangkan mutu peserta didik. Salah satu program ikonik sekolah ini dalam mengembangkan mutu peserta didik yakni adanya kegiatan Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) bagi Pengurus Organisasi Peserta Didik Intra Sekolah (OPDIS).

Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar OPDIS pada Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) St. Fransiskus Asisi Larantuka adalah salah satu program tahunan yang diselenggarakan setelah pemilihan dan pelantikan OPDIS. Di tahun 2023 ini, sedikitnya tiga puluh tiga (33) Peserta Didik yang berpartisipasi. Kegiatan yang mengusung tema “Menjadi Mitra Santo Fransiskus Asisi untuk Generasi Gereja Yang Lebih Peduli Kepada Alam Dan Sesama” ini dilaksanakan pada Hari Kamis- Sabtu (8-10/6/23) di lingkungan SMAK St. Fransiskus Asisi Larantuka.

Secara resmi, kegiatan LKTD ini diawali dengan Upacara Bendera. Pembina OPDIS, Marselina Ina Doken, S.Pd selaku Ketua panitia, dalam laporannya mengatakan bahwa kegiatan LKTD sangat penting untuk dilaksanakan karena ini merupakan kebutuhan dasar pengurus OPDIS. “Kegiatan LKTD sangat penting dilaksanakan karena ini merupakan kebutuhan dasar pengurus OPDIS. Kegiatan LKTD dapat melatih mental dan membentuk karakter kepemimpinnya agar dalam pelaksanaan programnya dapat mendukung sekolah dengan baik,”ungkap Marselina.
Sementara itu, Kepala SMAK St. Fransiskus Asisi Larantuka, Rm. Martinus Kapitan Sogen, Pr selaku Pembina Upacara dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan LKTD merupakan kegiatan rutin sekolah yang dilaksanakan setelah pemilihan dan pelantikan OPDIS. Ia juga menyampaikan bahwa sebagai pimpinan di lembaga, dirinya mendukung penuh kegiatan LKTD. “Saya sangat mendukung kegiatan LKTD dan berharap semua peserta LKTD mengikuti kegiatan ini dengan serius. Saya mengajak peserta LKTD untuk memahami bahwa secara struktur, posisi pemimpin berada paling atas. Layaknya pohon, pemimpin itu berada di pucuk pohon sehingga ketika angin menerpa pohon itu maka yang lebih terasa hempasannya adalah pucuk. Sehingga untuk menjadi seorang pemimpin, mental OPDIS mesti harus disiapkan sejak dini. Kegiatan LKTD adalah salah satu wadah yang disiapkan oleh Sekolah untuk membantu membentuk karakter kepemimpinan pengurus OPDIS.






Adapun rangkaian kegiatan LKTD yakni hari pertama, Peserta menerima materi “Karakter Pemimpin sebagai seorang Pelayan”. Peserta hanya mendapatkan sedikit penjelasan terkait materi kemudian mereka dilepas untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana menjadi seorang pelayan yang tulus. Semua peserta di hantar ke lokasi belajar yaitu di Panti Asuhan Duo Aca Mister (Watowiti), Panti Asuhan Susteran Alma (Weri) dan Panti Jompo Susteran PRR (Sarotari). Kedua Panti Asuhan dipilih sebagai tempat belajar mereka karena menampung anak-anak Disabilitas. Semua peserta menjalani aktivitas pelayanannya dari pukul 10.00 sampai 20.00 WITA. Mereka bekerja melayani anak-anak disabilitas seperti memandikan mereka, mencuci pakiannya, membersihkan panti baik di dalam rumah, halaman dan kebun, memberi makan binatang, dan lain- lain. Di waktu istirahat, semua peserta tidak istirahat namun mereka memanfaatkan waktu istirahatnya dengan bekerja. Pemimpin Panti menyampaikan apresiasi kepada semua Peserta LKTD karena mereka melayani Anak- anak panti dengan tulus hati dan sungguh-sungguh.



Setelah kembali ke sekolah usai diterjukan ke beberapa lokasi tersebut, semua peserta di beri kesempatan untuk merefleksikan secara pribadi dan kelompok kemudian disharingkan. Dan kegiatan di tutup dengan renungan bersama dan meditasi. Dalam sharing pribadi, semua peserta mengalami pengalaman yang luar biasa yang dapat menyadarkan mereka banyak hal tentang hidup.


Kegiatan hari ke dua, peserta menerima materi “Survive”. Seperti di hari pertama, peserta hanya diberi sedikit penjelasan tentang bagaimana mereka harus berjuang agar tetap bertahan hidup. Setelah sarapan, peserta dilepas pukul 10.00 WITA untuk mencari pekerjaan. Semua peserta di tantang untuk mencari makan siang dari hasil kerjanya dan harus kembali ke sekolah lagi pada pukul 15.30 WITA dalam keadaan kenyang dan harus ada upah yang dibawah pulang. Pada hari ke dua kegiatan, tanggal 9 Juni 2023, Kota Larantuka di guyur hujan. Namun cuaca ini tidak menghalangi semangat mereka untuk belajar.
Setelah kembali peserta di beri kesempatan untuk istirahat, kemudia bersih diri, makan dan dilanjutkan dengan refleksi kelompok dan pribadi. Dalam sharingnya, semua mereka mengalami banyak pengalaman yang menyadarkan mereka tentang banyak hal. Ketika menawarkan jasa tenaganya, banyak yang mengalami penolakan berulang-ulang kali namun tetap saling mendukung berusaha mencari pekerjaan. Ada yang bekerja namun tidak diberi makan dan tidak di upah. Ada yang diupah dengan diberi makan. Ada yang di beri upah berupa uang. Pengalaman-pengalaman dikegiatan ini menyadarkan mereka tentang bagaimana susahnya orang tua dalam memperjuangkan kehidupan. Mereka juga belajar bagaimana berusaha menahan ego dan rasa malu, mereka belajar saling mendukung dan menguatkan ketika menerima tantangan, dan tentunya mereka akan lebih menghargai kehidupan. Kegiatan di tutup dengan menagamen konflik dan renungan bersama. Di tengah malam dilanjutkan dengan kegiatan Caraka malam sebagai media pembelajaran untuk pembentukan mental yang berani. Dan ditutup dengan pembakaran Api Unggun. Tapi api unggun yang diseting bukan dibakar seperti biasanya namun dibuat agak berbeda. Ada tiga sumbu yang diarahkan ke api unggun dan hanya satu sumbu yang tersambung dengan api unggun. Tiga sumbu itu ibarat jalan dan api unggun diibaratkan tujuan atau Visi Misi OPDIS. Setelah dijelaskan, semua peserta di minta untuk memegang satu tongkat kepemimpinan agar bisa menyalakan jalan menuju Visi Misi OPDIS. Karena tiga puluh tiga peserta LKTD tidak bisa memegang tongkat itu secara bersamaan maka mereka bersepakat mempercayakan ketua OPDIS untuk memegang tongkat itu dan mere tetap mendukungnya dengan bersama-sama menyentuh bahunya. Mereka hanya diberi dua kesempatan untuk tiga pilihan. Pilihan pertama gagal dan pilihan kedua mere berhasil. Ada rasa puas dan terharu ketika mereka memilih jalan yang tepat untuk mencapai Visi Misinya. Tujuan kegiatan ini agar mereka belajar bagaimana mempercayai, komunikasih, kompak, tidak saling menyalakan dan konsenrasi.



Kegiatan hari ketiga, di tutup dengan rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh ketua OPDIS tanpa pendamping dan dilanjutkan dengan kegiatan Outbound. Ada lima permainan dalam kegiatan itu. Tujuan dari semua permainan adalah agar mereka belajar bagaimana memecahkan masalah dengan tanpa melupakan komunikasi, kesepakatan, keputusan, kekompakan, kerjasama, saling menghargai satu dengan yang lainnya, saling percaya, dll. Semua peserta antusias mengikuti kegiatan ini dengan bahagia. Kegiatan ditutup dengan resmi oleh Kepala Sekolah ditandai dengan pemberian sertifikat.


Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) merupakan kebutuhan dasar peserta didik dalam menjadikannya seseorang yang berkarakter. Bentuk kegiatan yang dirancang seperti ini apabila di diikuti oleh semua peserta didik maka mungkin akan membantunya menemukan diri pribadi yang lebih berkualitas.

Semangat menjalankan tugas bagi Pengurus OPDIS di Tahun Bakti 2023 ini, semoga tercapai semua Visi Misi yang telah dirancang. Dan semoga kalian mendapati pribadi baru yang hebat. ( Ditulis oleh @Natalia_Astri/ Guru pada SMAK St. Asisi Larantuka)
