
Egidius Demon Lema/ Wakil Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur
- Gambaran keadaan dan perkembangan 4 (empat) aspek Pembangunan Pendidikan (Aksesbilitas, Kualitas, Relevansi, dan Tata Kelola)
- Aksesbilitas
Beberapa kondisi riil di lapangan:
- Infrastruktur Pendidikan Kabupaten Flores Timur Tahun 2024 bedasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Flores Timur SD/MI Sebanyak 298 Sekolah dengan rincian Sekolah Negeri 156 dan Sekolah Swasta 142. SMP/MTS berjumlah 76 sekolah dengan rincian 42 sekolah Negeri, 30 sekolah swasta. SMA/MA berjumlah 36 sekolah dengan rincian 15 Negeri dan 21 Swasta. SMK berjumlah 16 Sekolah dengan rincian 8 Negeri dan 8 Swasta. Sementara Perguruan Tinggi/Akademi, berjumlah 2 dengan rincian 0 Negeri dan 2 Swasta.
- Satuan Pendidikan dari jenjang Pendidikan Dasar hingga Menengah sudah tersedia dengan baik. Walau masih terdapat beberapa sekolah yang secara topografi akses Peserta Didik ke sekolah masih terkategori sulit contoh di SMPN 2 Tanjung Bunga, Desa Latonliwu, Kecamatan Tanjung Bunga.
- Fenomena lain, beberapa Sekolah Dasar (SD) Negeri yang awalnya dibangun dengan tujuan pendekatan pelayanan, “terancam ditutup” karena siswa kurang. Misalnya; SDN Oringbele Gunung, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara.
- Kendala transportasi masih dialami oleh sejumlah siswa dibeberapa sekolah Dimana, layanan subsidi transportasi umum tidak tersedia
- Peserta Didik Penyintas Gunung Ile Lewotobi Laki laki masih mengharapkan untuk terciptanya kenyamanan belajar dengan penentuan lokasi kelas pembelajaran dan sarana fasilitas sederhana namun nyaman digunakan dalam mendukung proses pembelajaran. Kelompok ini memang membutuhkan perhatian khusus.
- Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian tentu dengan penghasilan rendah. Anak-anak dari keluarga miskin berisiko putus sekolah, terutama saat memasuki jenjang menengah karena uang sekolah, biaya transportasi, seragam, dan kebutuhan belajar lainnya. Bantuan seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan BOS sangat membantu, tapi belum sepenuhnya menjangkau semua anak yang membutuhkan.
- Sejumlah Peserta Didik di Kabupaten Flores Timur ditinggal pergi Orang Tua merantau. Kelompok ini tinggal bersama Nenek atau Kakek yang sedikitnya memberi pengaruh pada motivasi untuk sekolah.Termasuk orang tua yang “broken home” turut menyumbang angka dropout siswa.
- Kualitas
Beberapa kondisi riil di lapangan:
- Berdasarkan Data Akreditasi Sekolah per kabupaten, Dapodik Referensi Kemendikbud Tahun Pelajaran 2024/2025 Mayoritas SMP dan SMA masih berakreditasi C atau belum terakreditasi.
- Menurut BPS Provinsi NTT (Metode Baru, Mei 2024), rata‑rata lama sekolah penduduk umur ≥15 tahun di Flores Timur adalah 8,06 tahun (naik tipis dari 8,04 tahun tahun sebelumnya)
- Indikator Assesmen Nasional dan Indeks Pembangunan Manusia NTT pada 2024 tercatat 62,5, jauh di bawah rata‑rata nasional 71,9, menjadikan NTT peringkat ke‑33 dari 34 provinsi. Banyak sekolah di Flores Timur masih menunjukkan skor literasi dan numerasi yang perlu mendapat perhatian serius
- Berdasarkan Profil Pendidikan Kabupaten Flores Timur (Susenas 2017), sebagian besar sekolah dasar dan menengah masih kekurangan: Perpustakaan Terstandar, Laboratorium IPA dan Bahasa, Akses TIK belum maksimal
- Relevansi
Beberapa kondisi riil di lapangan :
- Tamatan Peserta Didik SMK belum mampu bersaing di di dunia kerja, baik itu sektor ekonomi, pertanian, kelautan dan perikanan, maupun pembangunan sosial budaya di Flores Timur.
- Belum ada sekolah vokasi di Kabupaten Flores Timur yang mampu menamatkan Peserta Didik yang bersaing di dunia kerja
- Pembelajaran kontekstual baik di SD, SMP maupun SMA/K masih kurang
- SMK di Kabupaten Flores Timur, mayoritas menawarkan program Teknik Otomotif, Administrasi Perkantoran, dan Tata Boga. Program Agribisnis Perikanan atau Pariwisata Bahari mengingat potensi alam dan laut Flores Timur yang potensial ternyata belum mampu menarik minat pengembangan peminatan di SMK
- Untuk SMA, kurikulumnya masih terlalu “umum” dan belum mendorong kompetensi praktis, sehingga lulusan SMA jarang langsung terserap di lapangan atau wirausaha lokal.
- Masih sangat rendah sekolah yang memiliki MoU dengan perusahaan/perikanan lokal atau BUMDes.
- Lembaga pemerintah (Disnaker, Dinas Perikanan) masih minim alokasi anggaran untuk workshop bersama, bimbingan teknis, atau roadshow ke sekolah.
- Kesenjangan Minat–Kebutuhan Pasar: Siswa lebih tertarik jurusan “favorit” (IPA/IPS) dibanding vokasi yang relevan.
- Sumber Daya Pengajar: Guru bidang vokasi lokal (mis. perikanan, pariwisata bahari) jumlahnya sangat sedikit.
- Tata Kelolah
Beberapa kondisi riil di lapangan:
- Banyak sekolah jenjang SD, SMP masih dijabat oleh Pelaksana Tugas (PLT) dan belum diangkat menjadi Kepala Sekolah Defenitif. Termasuk beberapa sekolah, yang mungkin masa jabatan sudah lebih dari dua periode pada satu sekolah yang sama
- Sejumlah sekolah di wilayah terpencil masih mengalami kekurangan Guru ASN, sementara guru ASN pada sekolah sekolah di dalam kota mengalami kelebihan
- Layanan kedinasan melalui UPTD yang dihapus “memaksa” guru untuk datang langsung ke Kantor Dinas Pendidikan di Kota Larantuka. Ditambah belum tersedianya layanan secara digital website Dinas Pendidikan sehingga menyulitkan guru mendapatkan informasi dengan cepat dan transparan
- Keberadaan Sekolah – sekolah swasta dibawah naungan Yapersuktim dan kewenangan yang dijalankan antara Yayasan dan Dinas Pendidikan mesti diatur dengan baik
- Tata Kelola layanan pendidikan pada Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Flores Timur dinilai belum memuaskan dengan masih ditemukan kendala pada penerimaan hak berupa kesehjateraan, kenaikan pangkat, dan urusan lainnya.
- Kepala Sekolah, Guru dan dan warga kurang aktif menyampaikan aspirasi di Musrenbang kecamatan/desa, sehingga kebutuhan riil sering terlewatkan dalam dokumen perencanaan pada Bidang Pendidikan
- Belum maksimalnya pemetaan zona layanan sekolah yang terintegrasi Sistem Informasi Geologis (GIS) sehingga Pembangunan beberapa ruang kelas dan sarpras belum tepat sasaran.
- Masih ditemukan adanya kendala dan persoalan pada Pelaporan dana BOS dan transparasi dalam penggunaan Dana Bos. Di Kabupaten Flores Timur sudah pernah terjadi korupsi dana BOS dan Kepala Sekolah beserta Bendahara dipenjara dan dipecat dari statusnya sebagai ASN.(Kejadian di SMP Negeri 1 Larantuka)
- Sisa hasil asset sekolah setelah Pembangunan atau rehabilitasi dari Dana DAK atau yang lainnya agar diatur dengan baik dan tidak menimbulkan persoala. Contoh terbaru yang sedang terjadi di SDK Watobuku.
- Bendahara BOS dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) Guru sangat berpengaruh juga pada keberadaannya di sekolah dimana sering meninggalkan sekolah dalam urusan pemberkasan, pelaporan pencairan dana dan lain- lain
- entri Dapodik tidak lengkap (foto, lampiran SK guru, kondisi ruang), mengganggu akurasi perencanaan dan pemantauan program.
- Data persoalan atau masalah yang dikeluhakan atau disampaikan tidak mendapat proses lanjutan berupa analisis untuk menemukan jalan keluar sehingga masalah yang sama berpeluang akan terjadi lagi
- Program pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur masih berjalan sendiri‑sendiri; belum ada satu rencana terpadu yang melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kominfo, Bappeda, dan Pemerinta Desa dalam urusan Pendidikan sebagai tangungjawab bersama
- Kerja sama dengan google Indonesia dan gambaran perkembangan Digitalisasi Sekolah
PGRI Flores Timur menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemda yang berupaya menghadirkan teknologi terkini ke dunia pendidikan. Kerja sama dengan Google Indonesia diharapkan dapat memperkaya sumber belajar—misalnya melalui Google Classroom, Google Workspace for Education, dan materi interaktif berbasis YouTube sehingga guru dan siswa dapat mengakses konten berkualitas tanpa batasan geografis.
Gambaran Digitalisasi Sekolah
- Sejumlah sekolah telah memanfaatkan digitalisasi secara baik dalam proses pembelajaran, evaluasi (ujian ) dan penilaian (pemeriksaan pekerjaan siswa)
- Pelatihan penggunaan Google Google Docs/Sheets/Slides, dan Chrome oleh PGRI Flores Timur rutin terlaksana dan telah membantu sekolah dalam menyelenggarakan ujian menggunakan android
- Sejumlah sekolah pada setiap kelas sudah terpancang infokus. Misalnya di SMPN 1 Lewolema, melalui Program Sekolah Digitalisasi Sekolah untuk Siswa Cerdas yang digagas oleh Kepala Sekolah
- Walau belum banyak, sejumlah sekolah telah memiliki memiliki Website sekolah sebagai media informasi dan edukasi. Misalnya Website milik SDK Kalike, Solor Selatan
- Sejumlah sekolah di Kabupaten Flores Timur memiliki Majalah Digital seperti SMPN 1 Lewolema
- Sekolah memiliki Blog sekolah sebagai media Informasi
- Rumah Belajar & Merdeka Mengajar (nasional): Platform daring gratis untuk guru & siswa, dapat diakses oleh Guru dan Siswa
- Sejumlah sekolah mendapat jaringan dari Bakti Indonesia
- Peserta Didik menggunakan Android untuk membuat konten creator
- Akses internet satelit (VSAT) belum menjangkau seluruh sekolah di wilayah pelosok
- Sudah banyak sekolah mendapat bantuan Note book dari Kementerian Pendidikan untuk pembelajaran TIK dan ujian berbasis computer di sekolah
- Rencana Tematik Karakter Bulanan
PGRI Kabupaten Flores Timur, mengapresiasi inisiatif Bapak Bupati dan jajaran Pemda untuk memperkuat pendidikan karakter melalui tema bulanan. Kami siap berkolaborasi penuh dengan Dinas Pendidikan dan seluruh sekolah agar setiap siklus tema—mulai dari tanggung jawab, kejujuran, gotong‑royong, hingga cinta lingkungan—terimplementasi secara konsisten dan bermakna di setiap kelas.” Bukti dukungan kami, kami telah membuka Lomba Penerapan Pendidikan Karakter Tematik baik di sekolah maupun di Desa untuk mengetahui pemahaman awal terkait penerapan Pendidikan karakter Tematik Bulanan.
Contoh sederhana :
- Bulan Maret Bulan Disiplin:
- Kegiatan “Tepat Waktu Masuk Kelas”
- Program “Tugas Harian Siswa” dengan pemantauan ketepatan waktu dan kerapian
- Kampanye “Hidup Teratur” melalui poster dan media kreatif siswa
- Bulan April Bulan Tanggung Jawab:
- Program “Satu Siswa Satu Tanggung Jawab” (merawat tanaman, kebersihan kelas, dsb.)
- Kegiatan refleksi harian atau jurnal tanggung jawab pribadi
- Evaluasi mingguan oleh wali kelas bersama siswa
- Bulan Mei Bulan Literasi:
- Program “15 Menit Membaca Sebelum Belajar”
- Pojok Baca Kelas dan Tantangan Membaca Mingguan
- Diskusi buku dan presentasi singkat oleh siswa
Setiap bulan masing- masing sekolah dengan tema yang bervariasi
- Rencana Future School
- PGRI Flores Timur, kami mengapresiasi gagasan Bapak Bupati yang berani menginisiasi konsep Future School: sekolah masa depan yang menggabungkan inovasi digital, pembelajaran aktif, dan pengembangan karakter. Langkah ini sangat relevan untuk mempersiapkan generasi muda Flores Timur menghadapi tantangan abad 21.
- PGRI siap berkolaborasi menyediakan pelatihan berkelanjutan bagi Guru Penggerak dan tenaga pendidik lain agar mampu mengintegrasikan teknologi, metodologi project‑based learning, dan pendekatan personalized learning ke dalam praktik mengajar sehari‑hari
#Pikiran sebagai Solusi berkembang dalam dinamika diskusi dan disahre pada bagian tersendiri!
