
Teguh Sumarno, pimpin dirinya saja tidak bisa lalu pimpin PGRI? Waduh, Guru Indonesia Republik Indonesia mau di bawah ke mana?
Guru se Jawa Timur mempercayakan dirinya memimpin PGRI Jawa Timur tentu dengan harapan menjadi batu loncatan yang baik, kelak memimpin Pengurus Besar (PB) PGRI. Wajar, jika berprestasi di Kepengurusan PGRI propinsi maka jalan mulus dan terbuka menuju kepemimpinan yang lebih tinggi, lebih luas untuk satu Indonesia.
Sayang kesempatan memimpin Jawa Timur tidak dimanfaatkan dengan baik. Tidak diisi dengan menarik simpati Ketua PGRI Propinsi dan Kabupaten. Justru yang terjadi adalah “ketamakan”. Tamak ingin cepat menjadi Ketua Umum PB tanpa harus melewati proses yang diatur dalam Anggaran Dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) Organisasi. Nasib terkahirnya adalah, dipecat dalam jabatan sebagai Ketua PGRI Jawa Timur.
Mari kita berhitung nafsu dan ketamakan ingin menjadi Ketua Umum PB PGRI. Pertama melakukan mosi tidak percaya kepada Pengurus Besar (PB) PGRI, Kedua melakukan somasi kepada PB PGRI . Berikut membuat laporan ke Pengadilan terhadap PB PGRI atas Konferensi Luar Biasa (KLB) PGRI NTT, hingga yang paling menunjukan ketamakan adalah pelaksanaan Kongres Luar Biasa yang melawan AD ART PGRI karena hanya melibatkan satu dua Pengurus pada tiga propinsi. Ketamakan tidak sampai di situ saja. Masih berlanjut dengan pengerudukan Gedung Guru Indonesia. Klaim diri, tepuk dada, bim sala bim mengatakan dirinya sebagai Ketua Umum PB PGRI.
Teguh Sumarno ini jenis manusia yang mana ya…? PGRI itu organisasi terhormat. Jangan lakukan tindakan yang membabi buta melanggar AD ART PGRI. Malu!! Malu!!
