
Thomas Are, Guru Pendidikan Agama Katolik di SMPN 3 Tanjung Bunga diberi kesempatan oleh PGRI Kabupaten Flores Timur berbagi praktik baik tentang Giat Literasi di Pelosok. Pengurus Kabupaten Flores Timur termuda ini membagikan materinya dengan judul ” Budaya Menulis Sebagai Sarana Pengembangan Karakter”.
Pada Webinar yang diselenggarakan Kamis (23/3/24) ini, Founder dan Fasilitator Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Palo Porong Kolidatang membedah topik bertolak dari tiga penyebab masalah diantaranya, kurangnya minat baca dalam diri peserta didik, minimnya kegiatan pendampingan literasi di sekolah terkait kemampuan untuk menulis dan desain pembelajaran yang masih minim muatan literasi.
Berdasarkan pengalaman pergulatan langsung dalam dunia literasi, penulis buku Antologi “Cermin” ini memaparkan langkah langkah praktik baik melakukan pendampingan kepada anak anak dalam kegiatan literasi. Adapun tahapan tahapan itu yakni, tahap sosialisasi materi, membedah tema secara ilmiah dalam dinamika kelompok, presentasi hasil bedah tema, menggali referensi lain, proses kreatif menulis karya, presentasi karya dan mendapat umpan balik, mengkoreksi kembali hasil karya, pengetikan naskah dan koreksi tulisan oleh pendamping, usaha gali dana penerbitan karya dan tahap ke sepuluh atau tahap terkahir karya dibukukan.
Pada bagian berikut, untuk mengapresiasi karya anak, Thomas Are juga menhelaskan langkah ke 11 yang tidak terpisahkan yakni peluncuran karya buku dan pencetakan kaos literasi meningkatkan kepercayaan diri.
Dengan bangga, Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan 10 ini menyampaikan sejumlah dampak positif dari kegiatan literasi yang ia jalankan diantaranya; Peserta didik sudah mulai terampil untuk menulis, menyelesaikan tugas tepat waktu secara khusus berkaitan dengan tugas tulis-menulis, timbulnya rasa percaya diri dalam diri peserta didik terkait hasil pekerjaannya atau kreativitasnya dalam bentuk tulisan, mulai berani untuk mempertanggungjawabkan hasil tulisan pribadi ataupun kelompok dalam presentase di depan kelas, dan Peserta didik dapat aktif untuk memberikan pertanyaan saat diskusi kelompok ataupun memberikan pertanyaan kepada guru.
Penulis Muda berbakat ini berpesan, ketika menghadapi tantangan, seorang guru harus mampu keluar dari zona nyaman.
“Ketika menghadapi berbagai tantangan yang dialami oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas (secara khususnya berkaitan dengan pertumbuhan karakter, ataupun kemampuan peserta didik dalam hal menulis), maka sebagai seorang guru kita harus mampu keluar dari zona nyaman (tidak menganggap sepeleh persoalan tersebut ataupun hanya berdiam diri dengan Batasan jam pembelajaran di kelas), tetapi sebaliknya kita harus mampu untuk menganalisa akar persoalan yang dihadapi tersebut dan mencari jalan keluar yang tepat, baik dalam bingkai kolaborasi mitra kerja-sama dengan sekolah maupun secara swadaya pribadi. Salah satu jalan yang sering kita lupakan untuk menumbuhkembangkan karakter serta kemampun menulis dalam diri
peserta didik adalah melalui jalan literasi,” pesan Thomas.
