
Lailatul Musyarofah (Biro Pemberdayaan Perempuan PGRI Provinsi Jawa Timur)
Sama-sama peduli pada dunia pendidikan, mengulas tentang R.A. Kartini dan Perempuan PGRI menjadi menarik karena di era berbeda perempuan bisa tetap berjuang dengan cara yang juga berbeda.
R.A. Kartini
Dikenalkan dengan R.A. Kartini sejak SD melalui buku sejarah, film, dan literature dalam bahasa Indonesia dan Inggris membuat saya sedikit banyak salut terhadap sepak terjang perempuan Jawa asal Jepara pada awal abd ke 20 ini.
R.A. Kartini, jelas punya privilege di zamannya. Tidak perlu saya ulas lagi bagaimana latar belakang R.A. Kartini di sini. Yang jelas, R.A. Kartini telah mapan secara sosial dan ekonomi sehingga punya waktu untuk memikirkan kaumnya. Perempuan-perempuan lain pada zamannya yang tidak sebaik nasibnya mungkin masih sibuk memikirkan besok makan apa.
R.A. Kartini telah sangat bijak dan pintar memanfaatkan kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. R.A. Kartini mahir berbahasa Belanda sehingga bisa menikmati buku-buku yang menjadi sesuatu yang tak terbayangkan sulitnya didapat oleh rakyat biasa, menuliskan ide-idenya dalam surat-surat yang ia kirimkan ke sahabatnya di Belanda, lalu diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
R.A. Kartini tidak dikenal setelah kepergiannya. Bahkan saat masih hidup, R.A. Kartini telah mempunyai nama harum hingga mengundang kedatangan orang-orang penting untuk berbagi gagasan. R.A. Kartini adalah influencer pada masanya dengan tagline “Emansipasi”. Emansipasi perempuan tidak semata-mata berfokus pada kesetaraan antara hak laki-laki dan wanita untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam beragam bidang. Emansipasi perempuan adalah tentang bagaimana perempuan dapat berkembang dan maju dari waktu ke waktu tanpa menghilangkan jati dirinya.
R.A. Kartini yang mempunyai cita-cita mulia menjadi seorang guru, telah mendirikan sekolah putri di Jepara yang mengajarkan cara menjahit, menyulam, dan memasak. Setelah menikah, R.A. Kartini juga mendirikan sekolah yang sama di Rembang. Sayangnya, perjuangannya menjadi guru terputus saat dia berjuang menjadi ibu. Empat hari setelah melahirkan, R.A. Kartini menyerahkan tongkat estafetnya pada perempuan-perempuan Indonesia yang peduli pada pendidikan bangsa.
Perempuan PGRI
Sebagai bagian dari tanggung jawab Biro Pemberdayaan Perempuan sekaligus Ketua Perempuan PGRI Provinsi Jawa Timur, sekilas akan saya jelaskan apa dan bagaimana Perempuan PGRI. Karena tak kenal maka tak sayang, kan?
Perempuan PGRI dalam konteks ini bukan dimaknai sebagai anggota PGRI yang berjenis kelamin perempuan. Perempuan PGRI adalah salah satu Badan Kelengkapan Organisasi (BKO) yang dibentuk di semua tingkat kepengurusan PGRI. Perempuan PGRI mempunyai kepengurusan sendiri dangan tugas untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif anggota Perempuan PGRI dalam membangun dan menjaga marwah organisasi. Sedangkan fungsi Perempuan PGRI adalah memberikan saran, pendapat, pertimbangan, dan usulan tentang program-program pengembangan dan pemberdayaan perempuan serta menggerakkan anggota Perempuan PGRI untuk berpartisipasi aktif dalam forum-forum dan kegiatan organisasi.
Adapun tantangan dalam pengembangan dan pemberdayaan perempuan adalah kurangnya kepemimpinan perempuan dan keterwakilan perempuan pada kepengurusan PGRI di semua tingkatan. Hal ini mengakibatkan kontribusi perempuan sangat minim dalam pengambilan keputusan. Tantangan lainnya adalah keterbatasan akses dan kesenjangan bagi perempuan untuk memegang peran penting dalam organisasi, kepemimpinan, serta pengambilan keputusan serta kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan dari pemimpin kepada perempuan PGRI.
Dari tantangan di atas, maka dibuatlah strategi pelaksanaan program dengan terus mengkampanyekan pemenuhan amanat AD/ART 30% keterwakilan, terbentuknya Perempuan PGRI sebagai BKO di semua level kepengurusan PGRI, meningkatkan kapasitas untuk menghadapi tantangan kemajuan teknologi dan informasi, mempromosikan perempuan PGRI untuk posisi pengambil keputusan, meningkatkan partisipasi aktif perempuan PGRI 50% dalam forum dan kegiatan, dan mengoptimalkan tugas dan fungsi perempuan PGRI melalui program yang efektif dan perluasan kerjasama dengan instansi dan lembaga terkait.
Lalu apa peran Perempuan PGRI dalam pendidikan?
Pengurus Perempuan PGRI (dengan definisi di atas) adalah guru yang sudah tidak punya masalah dalam tugasnya sebagai pendidik, seperti R.A. Kartini yang tidak punya masalah secara social dan finansial. Maka perempuan PGRI bisa memandang permasalahan dan potensi dengan lebih luas dan leluasa. Pengurus Perempuan PGRI dengan posisi di institusi masing-masing, mempunyai power dan link yang bisa dijejaringkan untuk peningkatan kapasitas dan kompetensi guru perempuan.
Maka peran Perempuan PGRI bisa dibilang beyond teaching karena pengembangan diri dan pengalaman organisasi bagi guru perempuan menjadi concern dan program prioritas. Pengalaman organisasi menjadikan seorang guru lebih percaya diri sekaligus rendah hati yang menjadi faktor penting dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Dalam organisasi kita belajar “Jangan rumangsa bisa tapi bisa a rumangsa” sehingga kita akan terus berproses dan berprogress. Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything (George Bernard Shaw). Yang artinya kemajuan tidak mungkin terjadi tanpa perubahan, dan mereka yang tidak dapat mengubah pikirannya tidak dapat mengubah apa pun. Guru perempuan yang bergabung dalam PGRI telah berani mengubah mindset “Apa manfaat PGRI bagi saya?” menjadi “Apa manfaat saya bagi perjuangan PGRI?”.
Perlu diketahui bahwa organisasi internasional seperti Education International (EI) melihat masa depan dalam Perempuan PGRI. Maka kerjasama EI dan PGRI di antaranya adalah tentang pemberdayaan perempuan melalui workshop, penelitian, dan kegiatan lainnya.
Maka jelaslah sudah bahwa Perempuan PGRI secara sadar dan bertanggung jawab menerima tongkat estafet yang diserahkan oleh R.A. Kartini untuk kemajuan pendidikan.
