
Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Adonara Timur dikenal sebagai salah satu Sekolah Negeri di Kabupaten Flores Timur yang memiliki reputasi dan citra yang baik. Kondisi ini terus terjaga karena dari satu pemimpin ke pemimpin yang lainnya, lembaga ini dikelola dengan baik dari semua aspek. Dalam kondisi keterbatasan sarana dan prasarana, SMAN 1 Adonara Timur tetap tampil terbaik dengan melahirkan siswa yang berprestasi, terampil dan berkarater terpuji.
Deretan prestasi dan hal-hal baik yang dilakukan oleh SMAN 1 Adonara Timur selalu mendapat apresiasi dan terima kasih dari orang tua serta publik Flores Timur, bahkan NTT. Dan hal yang paling berkesan dan diingat orang tua adalah, tentang tim Khusus yang terbentuk dari kolaborasi para guru mendampingi peserta didik menjemput beasiswa Bidikmisi. Ini hal unik milik SMAN 1 Adonara Timur. Orang tua siapa yang tidak bersyukur jika anaknya masih di SMA, tetapi masa depannya di Perguruan Tinggi telah disiapkan dengan baik oleh para guru.
Sejak sekolah ini berdiri, terkait bantuan sekolah kepada peserta didik mendapat beasiswa Bidikmisi tidak bisa lagi terhitung. Sudah sangat banyak. Kondisi ini membuat orang tua semakin bangga dan masyarakat pada umumnya tidak henti -henti melambungkan pujian. Orang tua berlomba-lomba menghantarkan anaknya sekolah di SMAN 1 Adonara Timur. Mereka tidak berpikir soal gedung SMAN 1 Adonara Timur yang meminjam gedung SD. Sekolah pada sore hari, tidak! Orang tua telah menaru cinta yang dalam pada sekolah yang dengan cinta yang besar mendidik Anak-anak mereka. Sumber Daya Manusia, Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan yang dilihat.
Benar-benar, keluarga besar SMAN 1 Adonara Timur membawa sekolah ini seturut visi yang telah mereka pahat yakni ” mewujudkan peserta didik yang unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, teguh dalam iman dan berwawasan nasional kebangsaan”.
Lalu, hari ini wajah media sosial dipenuhi dengan persoalan menimpa SMAN 1 Adonara Timur dan itu berhubungan dengan peserta didik hingga membuat air mata para orang tua menetes? Ada apa? Apa yang sedang terjadi di sekolah penuh prestasi ini. Apakah beralihnya kepemimpinan sehingga ada tata kelola yang berubah? Ataukah ada ruang diskusi, bicara dari hati ke hati yang terputus antara Kepala Sekolah dengan guru, guru dengan orang tua secara khusus dan sekolah dengan masyarakat pada umumya?
Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur berkomentar singkat, bahwa sekolah ini butuh ruang refleksi yang mendalam atas keputusan terkait mengeluarkan siswa.
“Saya sangat respek dan bangga dengan SMAN 1 Adonara Timur. Respek kepada Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan dan semua elemen terkait lainnya. Telah banyak hal hal hebat dan luar biasa mereka torehkan. Jika saat ini mereka diterpa persoalan terkait keputusan mengeluarkan peserta didik dari sekolah, kami sarankan untuk melakukan refleksi mendalam. Jika keputusan terbaik sudah tidak ada lagi untuk dipilih, maka silahkan untuk memilih keputusan yang terburuk tetapi tidak membuat air mata orang tua sampai menetes. Anak sedang belajar di SMAN 1 Adonara Timur dengan segala harapan baik dari orang tua, namun keterbatasan sebagai manusia hingga dia melakukan kesalahan, kiranya tidak langsung dikeluarkan dari sekolah. Berilah mereka kesempatan untuk dibimbing lebih lanjut demi masa depannya. Tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia,”kata Maksi.
Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur juga berjanji akan membangun komunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi untuk memperhatikan persolan di SMAN 1 Adonara Timur ini.
“Kami akan segera membangun komunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT untuk mendapatkan pertimbangan. Soal keputusan, tentunya tetap kembali ke sekolah, namun tidak salah juga, kita perlu mendapat pertimbangan lebih luas mengingat persoalan ini telah menjadi konsumi publik,”kata Maksi. (Humas PGRI Flores Timur)
