
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur menunjukkan kepeduliannya dengan memberikan santunan sebesar Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) kepada keluarga almarhumah Rosalia Rerek Sogen. Bantuan tersebut diserahkan pada doa malam terakhir di rumah duka yang berlokasi di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Sabtu (29/3/2025).
Rosalia Rerek Sogen adalah seorang guru yang mengabdi di Yahukimo, Papua Pegunungan. Ia menjadi korban serangan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kepergiannya yang tragis meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan guru, serta masyarakat luas.
Santunan tersebut diberikan langsung oleh Pelaksana Tugas Ketua PGRI Flores Timur, Egidius Demon Lema, didampingi oleh Bendahara PGRI Flores Timur, Theodorus Doweng Teluma, serta Ketua PGRI Cabang Lewolema, Martinus Balan. Bantuan ini diserahkan kepada kedua orang tua Rosalia sebagai bentuk empati dan dukungan moral atas kehilangan yang mereka alami.
Egidius Demon Lema dalam sambutannya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya Rosalia. Ia menggambarkan Rosalia sebagai sosok guru penuh dedikasi yang rela berkorban demi pendidikan anak-anak bangsa, bahkan hingga kehilangan nyawanya dalam tugas.
“Kami turut berduka atas kepergian Rosalia yang begitu tragis. Dia adalah sosok guru yang luar biasa, penuh pengabdian, dan rela bekerja di daerah terpencil demi mencerdaskan anak-anak bangsa. Kami berharap keluarga diberikan ketabahan,” ujar Egidius dalam kesempatan tersebut.
Egidius menambahkan bahwa dana santunan ini dikumpulkan dari para anggota PGRI Flores Timur yang ingin meringankan beban keluarga almarhumah. “Kami mengumpulkan satu dua rupiah hingga terkumpul Rp 10 juta. Semoga bantuan ini bisa membantu dalam pengerjaan kubur serta keperluan lainnya,” tambahnya.
Ia juga mengusulkan agar di salah satu sisi kubur Rosalia dibuat narasi singkat tentang perjuangannya dalam dunia pendidikan dan kisah tragis yang dialaminya. Menurutnya, pengorbanan Rosalia patut dikenang sebagai pahlawan pendidikan yang gugur dalam menjalankan tugasnya.
“Perjuanganmu memang pantas dinobatkan sebagai Pahlawan Pendidikan. Sebab, dirimu meninggal dibunuh dengan keji oleh musuh bangsa. Semoga pengabdian dan jasamu selalu dikenang oleh generasi mendatang,” kata Egidius dengan suara penuh emosi.
Sementara itu, di sisi lain, Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur mengecam keras aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata terhadap tenaga pendidik di Papua. “Kami mendesak agar pemerintah segera memberikan perlindungan maksimal bagi para guru yang bertugas di daerah rawan konflik. Kami mengecam tindakan biadab ini dan meminta pemerintah lebih serius dalam menjamin keselamatan guru-guru di daerah konflik. Jangan sampai ada lagi guru yang kehilangan nyawa saat menjalankan tugas mulianya. Segera terbitkan Undang – Undang Perlindungan Guru,” tegas Maksimus.
Dengan adanya kejadian ini, PGRI Flores Timur berharap agar pemerintah lebih memperhatikan keselamatan tenaga pendidik yang mengabdi di daerah-daerah terpencil, terutama di wilayah yang masih rawan konflik bersenjata. Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, dan para guru yang berjuang di garis depan harus mendapatkan perlindungan yang layak dan Undang- Undang Pelrindungan Guru menjadi salah satu solusinya.(Humas PGRI Flores Timur)
