Kata eureka, berasal dari Bahasa Italia yakni heureka yang berarti “aku telah menemukannya.” Kata ini menjadi terkenal kala Archimedes melakukan penelitian, dan akhirnya menemukan bahwa berat zat cair yang dipindahkan sama dengan gaya ke atas yang diberikan air kepada benda yang dicelup. Perjuangan hingga kata ini terucap darinya sangatlah luar biasa. Bagi siapa saja yang pernah belajar materi hasil temuan sang ahli ini, tentu tidaklah asing.
Sudah lama saya tidak menulis dengan narasi panjang di halaman facebook. Namun siang ini saya ingin menulis sesuatu. Keinginan ini bisa terpenuhi karena ada kisah inspirasif dari proses yang sederhana. Kisah inilah yang menggerakan jemari dan mulai menari di atas layar android. Tentu bukan kisah luar biasa ala Archimedes. Melainkan hanya sebuah kisah kecil yang mungkin hanya bermanfaat bagi pelaku cerita.
Ketika kegiatan pendampingan dimulai untuk hari kedua di rayon 1 Larantuka, saya bersama rekan-rekan pendamping lainnya, berjalan ke kelompok-kelompok mata pelajaran. Setibanya saya di kelompok mata pelajaran PJOK, seorang ibu langsung mempersilahkan saya duduk pada kursi yang ia siapkan. Serentak saya mengerti, bahwa si ibu ingin berdiskusi. Saya pun langsung menempati kursi yang telah disediakan yang terletak di sampingnya.
Si ibu langsung memulai percakapan. Tentu berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi yang diimplementasikan pada mata pelajaran yang diampuhnya. Saya mendengar dan berusaha memahami, karena sesungguhnya substansi ilmu PJOK tidak saya miliki. Namun melalui penjelasannya sambil meragakan di depan saya, akhirnya saya pun mulai mengerti apa maksudnya.
Setelah memahami maksudnya, saya langsung memberikan saran untuk mengintegrasikan salah satu bagian kecil dari pembelajaran berdiferensiasi. Proses itu berjalan secara lisan dan juga peragaan. Saat itu saya mulai teringat bahwa salah satu profil belajar adalah kinestetik. Dimana belajar sambil melakukan.
Tanpa saya sadari, saat itulah proses menyamakan konsep mulai berlangsung. Diskusi berlangsung serius walau dalam waktu yang singkat, dan akhirnya tibalah kami pada kesamaan konsep. RPP berdiferensiasi PJOK pun selesai dibuat dan siap digunakan dalam peer teaching. Secara spontan, kami mengakhiri diskusi dengan melakuan tos sebagai ungkapan sepakat sambil mengucapkan kata eureka dalam hati.
Peristiwa ini membuat saya merenung lebih jauh dan mulai berandai-andai. Jika saya tidak menuju ke tempatnya, tentu ia masih dikuasai kebingungan dan ketidakpastian. Jika ia tidak bertanya, tentu diskusi tidak akan dibangun dan sulit untuk menyamakan konsep. Jika ia masih merasa segan karena kapasitas saya sebagai pengawas maka ia tidak berani membuka diri akan kesulitan yang ia hadapi.
Pengalaman ini, akhirnya mengingatkan saya pada beberapa hal :
Pertama : Seorang pemateri tentu menjelaskan materi pelatihan khususnya bidang akademik, pasti menggunakan rujukan pada disiplin ilmu yang dimiliki. Itu berarti, guru yang memiliki latar belakang berbeda akan berjuang untuk menerjemakan maksud tersebut kedalam mata pelajaran yang diampuhnya. Dengan demikian, untuk menghasilkan produk yang diharapkan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Kedua : Melakukan bimbingan individual mungkin menjadi solusi yang tepat dalam melakukan pendampingan. Banyak peserta mungkin sedang bingung namun tidak ingin bertanya di depan umum dengan berbagai alasan pribadi. Namun melalui bimbingan perorangan, kesulitan itu akan diungkapkan sendiri. Apalagi berhadapan dengan orang yang ingin tahunya sangat tinggi.
Ketiga : Membangun kedekatan emosional antara pendamping dan yang didampingi sangatlah penting. Kedekatan emosional, tentu akan membuka ruang kolaborasi karena merasa bahwa kita memiliki kesamaan dalam visi. Dengan harapan, melalui ruang inilah proses menyamakan konsep akan tercipta.
Ini sekedar mengisi halaman FB, kala jeda pagi ini. Mohon ijin kepada ibu guru PJOK yang fotonya saya gunakan untuk menulis kisah ini.
Penulis adalah Wakil Koordinator Pengawas DIKDAS Dinas PKO Kabupaten Flores Timur
