Harusnya Mas Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia datang ke Witihama, Adonara Flores Timur di Nusa Tenggara Timur (NTT). Datang bersilah dengan para dewa di kaki gunung Ile Boleng. Di Witihama, kampung kerukunan itu bukanlah teori akademisi. Tetapi lahir dari rahim suci leluhur turun temurun.
Di kampung yang lonceng gereja dan toa masjid bersahutan saban hari, adalah titik kumpul ribuan guru kampung dari korps Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Flores Timur.
Mereka datang dari segala penjuru pulau Flores di bagian timur. Daratan Larantuka kota Reinha, Solor pulau para pelaut, dan juga di daratan Adonara tana nuha nebon. Juga ada perwakilan dari Lembata, negeri ikan paus.
Yang menarik, mereka datang secara sukarela. Dengan biaya sendiri termasuk untuk keperluan mereka di saat kegiatan. Tanpa ada yang menjadi sponsor. Guru kampung berkumpul di kesunyian. Ini pekerjaan berat di tengah tantangan yang kompleks. Guru begini pantas ditiru dan digugu.
Bukan hanya mereka. Masyarakat di lima desa di Kecamatan Witihama pun turut andil. Menampung dan menjamu ratusan hingga ribuan guru di rumah-rumah dan kampung mereka. Sebuah ketulusan yang sungguh mahal.
Saya satu orang yang sangat beruntung mendapat kesempatan mewah ini. Berada di tengah guru-guru kampung yang tak kampungan. Bersama Bapak Linus Lusi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ibu Harsi guru berprestasi nasional, dan Rm. Thomas Labina ketua Yapersuktim dalam sebuah Seminar Nasional yang dipandu oleh Nona Mervina Lamawuran.

Ini hanya satu rangkaian dari sekian agenda menarik selama tiga hari sejak 23 sampai 25 November 2021. Ada pawai budaya, ada pentas seni, ada dongeng dan ceritera rakyat, juga acara puncak upacara memperingati 76 tahun PGRI dan HAN yang dihadiri Wakil Bupati Flotim, Bung Agus Boli (AB).
Guru kampung bukan kampungan. Ini seperti semangat membara. Bahwa walau berada di kampung, karya mereka bukanlah kampungan. Mereka berkarya membangun negeri, membangun generasi tanpa sekat. Sebuah kebanggaan.
Kalau saja Mas Meteri mau lihat Indonesia, datang saja ke Adonara atau di Flores Timur. Di sana, pendidikan itu berjalan jujur, tulus, dan gotong royong. Dalam bahasa lokal disebut gomohing. Pendidikan yang memanusiakan manusia (atadiken). Sungguh mewah.
Terima.kasih, Ketua PGRI Flotim, Kaka Guru Maksimus Masan Kian dan seluruh pengurus Cabang dan Ranting se Kabupaten Flores Timur.
Semesta selalu baik..
