
Konferensi Propinsi Luar Biasa PGRI Nusa Tenggara Timur yang dimotori oleh Ketua PGRI Kabupaten Kota dan Pengurus PGRI tingkat cabang se NTT, berhasil dilaksanakan sesuai AD ART tanpa ada aral yang berarti pada Jumat-Sabtu (8-9/ 9/23)
Memang, sebagai pemilik hak suara, PGRI Kabupaten dan Kota se NTT sudah “mendidih” mendengar adanya keterlibatan Pengurus Propinsi NTT dibawah kepemimpinan Simon Petrus Manu yang turut bersama membuat mosi tidak percaya kepada Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI. Sejak itu, wacana KLB sudah mulai digulirkan dan itu mendapat respon yang positif dari para guru di NTT.

Salah seorang guru di NTT inisial ABK mengatakan, sebagai guru di NTT saya tidak mengenal siapa pengurus PGRI NTT. “Siapa Pengurus PGRI di Propinsi NTT? kami tidak pernah mengenal. Apakah mereka selama ini ada? Apakah mereka tidak bisa digantikan? Tunggu sampai 2024 dengan kondisi pasif sangat disayangkan. Aspirasi kami tidak pernah direspon. Program kegiatan tidak pernah kami rasakan. Sementara kewajiban kami dalam bentuk iuran anggota kami kirimkan rutin ke PGRI Propinsi,” kata ABK.
Tuhan mendukung, semesta merestui niat-niat baik oleh orang baik. Demikian kata Ketua PGRI Kabupaten Rote Ndao,Alberd Dano.
“Pada forum Konferensi Kerja Propinsi, peserta memutuskan secara bersama untuk adanya KLB. Keputusan bersama dalam forum ini kemudian memberikan kesempatan kepada Pengurus PGRI NTT untuk melakukan persiapan terhitung 14 hari ke depan. Faktanya, hingga bulan September 2023 belum ada laporan. Fakta ini menjadi dorongan yang kuat bagi Pengurus PGRI Kabupaten Kota dan Cabang sebaik pemilik hak suara untuk memantapkan langkah melaksanakan KLB,” kata Alberd.
Sebelum pelaksanaan KLB, lewat komunikasi dengan Pengurus Besar (PB) PGRI, Ketua PGRI Kabupaten dan Kota se NTT mendapat saran untuk melewati yang namanya rekonsiliasi, namun bagi Ketua PGRI Kabupaten dan Kota, niatan itu telah terkubur pasca pelaksanaan Konferensi Kerja Propinsi yang tidak ada laporan sama sekali hingga September 2023. Ketua PGRI Kabupaten Kota telah membulatkan tekad untuk tetap melaksanakan KLB.
Tuhan mendukung, semesta merestui lahirlah Forum KLB. Bak hukum tabur tuai. KLB berjalan dengan lancar tanpa aral.
Ketua PGRI Kota Kupang, Aplonia Dethan, S.Pd.,M.Pd mengatakan Puji Tuhan, KLB yang direncanakan berjalan dengan lancar. “KLB yang diselenggarakan bukan abal-abal. Bukan kaleng-kaleng dan bukan ilegal. Semua tahapan sesuai AD ART dan dapat dipertangungjawabkan secara hukum. Tidak keluar sedikitpun dari koridor organisasi. jika tidak memenuhi quorum berarti batal demi hukum. Faktanya, ada 14 Pengurus Kabupaten/ Kota juga Pengurus Cabang hadir dari total 22 Kabupaten Kota. Pertanyaan lanjutannya, apakah bisa Ketua PGRI propinsi diberhentikan oleh Ketua Kabupaten/ Kota…? Jawabnya bisa! Sebagai pemilik suara bisa dan forumnya adalah KLB. Jadi semua sudah tepat,” kata Aplonia.

Lanjut Aplonia, jika saudara Mantan Ketua PGRI NTT, Bapak Simon Petrus Manu pada forum KLB NTT hadir dan terpilih kita hormati. ” Pada KLB bukan calon tunggal Saudara Sam Haning. Jika hari itu, Mantan Ketua PGRI NTT, Bapak Simon hadir kita sportif berdinamika dalam forum. Jika Bapak Simon kembali terpilih kita hormati. Sayang, Bapa Simon lebih memilih untuk tidak hadir di lokasi sejak awal hingga akhir pelaksanaan KLB, walau sudah mendapat undangan,”kata Aplonia.
