SEMINAR NASIONAL PGRI FLOTIM DIGELAR DI OBYEK WISATA PANTAI RIANGSUNGE

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke 78 PGRI menggelar Seminar Nasional pada Jumat (24/12/23) bertajuk “Transformasi Guru Wujudkan Indonesia Maju”. Kegiatan Seminar ini menghadirkan 5 narasumber diantaranya Dr. Baharudin dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Dr. Sumardiansyah dari Pengurus Besar (PB) PGRI, Dr. Lailatul Musyarofah, M.Pd, Biro Perempuan PGRI PGRI Jawa Timur, Gusti Ayu Putu Dewa Eva Juniati dan Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur.

Seminar yang dihadiri kurang lebih 1000 peserta ini berlangsung hangat baik dalam paparan materi oleh narasumber maupun saat sesi dialog berlangsung.

Dr. Sumardiansyah mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan materinya. Pengurus Besar PGRI Departemen Penelitian Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat dalam pemaparan materinya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada PGRI Kabupaten Flores Timur yang selalu aktif bergiat dengan cara yang unik. Menurut Sumardiansyah, PGRI di daerah mesti terus bergerak dan tumbuh mendukung organisasi pada hirarki di atasnya baik Propinsi maupun Pengurus Besar.

” PGRI Flores Timur luar biasa. Bung Max bersama teman teman selalu luar biasa menampilkan program -program kegiatan yang unik. Pengurus Besar PGRI memantaunya. PGRI Flores Timur luar biasa. PB PGRI dalam sejarah dan rekam jejaknya tidak pernah berhenti berjuang untuk para guru Se Indonesia. Seratus hari setelah Kemerdekaan RI tepatnya di Surakarta 24 November 1945, PGRI lahir. Lahirnya bangsa ini dengan lahirnya PGRI ada dalam satu tarikan napas. Sejak awal berdiri hingga saat ini, PGRI selalu berjuang untuk peningkatan profesionalisme, kesehjateraan para guru, juga ketenegakerjaan. Lahirnya UU 14 Tahun 2005 membuka kesempatan bagi guru memperbaiki kesehjateraan. Tunjangan Sertifikasi guru adalah perjuangan panjang kurang lebih selama 18 tahun. Adanya program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah berkat gagasan PGRI. PGRI terus bergerak dan dinamis memenuhi kebutuhan para anggota. Organisasi PGRI dari waktu ke waktu terus dicintai,”kata Sumardiansyah

Narasumber dari Kemendikbudristek Dr. Baharudin dalam paparannya menyampaikan terkait kurikulum. Saat ini, sedang gencar-gencarnya implementasi Kurikulum Merdeka Belajar (IKM). Kemendikbudristek melalui Program Pendidikan Guru Penggerak mendorong sebanyak-banyak guru di Indonesia untuk menjadi pemimpin pembelajaran. ” Kementerian Pendidikan berharap, program Pendidikan Guru Penggerak dapat menjangkau lebih luas dan berdampak. Kurikulum Merdeka diharapkan juga dapat terealisasi dengan baik ke sekolah -sekolah untuk dapat memenuhi kebutuhan beajar anak sesuai bakat dan potensi, sesuai kodratnya. Saat ini gencar-gencarnya pendidikan mengarah ke Profil Pelajar Pancasila (P5) saya tekanan bahwa P5 tidak memprioritaskan hasil tetapi proses. Proses yang melibatkan anak secara langsung meningkatkan keterampilannya,”kata Baharudin.

Gusti Ayu Putu Dewa Eva Juniati, selaku Narasumber ketiga berbagi informasi dan pengalaman sebagai Instruktur Guru Penggerak dan pengalaman belajar di Jepang. Bagi Eva guru harus mampu beradaptasi dan melakukan transformasi sesuai dengan perkembangan pendidikan saat ini. “Ada niat dan kemauan belajar bisa menghantar kita menjadi apa saja yang kita inginkan. Program Pendidikan Guru Pengerak dari Kemendikbudristek adalah program unggulan dan diharapkan guru dapat berlomba-lomba menjadi pelaku dari program ini. Saya mulai terlibat menjadi Pengajar Praktik (PP) Angkatan ke dua sama sama dengan Pa Maksi, Ketua PGRI Flores Timur. Lalu menjadi Fasilitator dan akhirnya menjadi Instruktur. Kita belajar banyak hal untuk melakukan transformasi dalam dunia pendidikan. Kesempatan belajar ke Jepang adalah satu pengalaman yang luar biasa. Satu hal yang menarik di sana, mereka sudah tidak lagi membeli listrik. Dapat dibayangkan, sampah -sampah yang ada di sana, telah diubah menjadi sumber listrik. Inovasi perlu untuk membantu negara agar dapat berkembang dan mensejahteran warganya. Demikian pula dalam dunia pendidikan, kita butuh inovasi,” kata Eva

Narasumber ke empat, Dr. Lailatul Musyarofah, M.Pd, Biro Perempuan PGRI PGRI Jawa Timur dalam sesi berbagi membakar semangat kader Perempuan PGRI. Bagi Laila, perempuan memiliki peran strategis dalam organisasi dan perempuan harus berdaya. “Ada banyak tokoh perempuan di dunia dan bangsa ini yang dalam aksi dan gerakannya memberikan pengaruh positif dan perubahan yang signifikan. Dalam organisasipun demikian. PGRI sendiri memiliki seorang leader yang hebat Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd adalah seorang perempuan. Saya mengajak kader-kader perempuan PGRI untuk bergerak maju, berdaya dan memberi dampak positif dimulai dari dalam diri, keluarga dan komunitas. Pintar-pintar membagi waktu bersama suami, anak, keluarga dan tunjukan bahwa kamu bisa menciptakan sejarah,” kata Laila.

Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Flores Timur sebagai pembicara terakhir berbicara dari sisi peran PGRI Flores Timur dalam transformasi organisasi PGRI Flores Timur dan transformasi pendidikan di Kabupaten Flores Timur. “Kita melakukan pembenahan dan transformasi pada tubuh organisasi PGRI Flores Timur secara fubdamental, selanjutya melakukan transformasi pada pelayanan kepada anggota dari segi peningkatan profesionalisme dengan mengadakan berbagai kegiatan edukatif baik seminar, training, worshop, pelatihan dan lain-lain. Dari sisi peningkatan kesehjateraan para guru, lembaga PGRI terus bergerak memberikan pengaruh terhadap kebijakan pemerintah yang wajib memberi keadilan kepada para guru dan dari sisi advokasi dan bantuan hukum, PGRI menjadi garda terdepan membantu para guru yang tersandung masalah hukum. PGRI Flores Timur dipercaya pihak luar jika secara internal organisasi, anggota mempercayai Pengurus. Mari terus bergandengan tangan, bergerak bersama dan raih impian kita,” kata Maksi.

Seminar Nasional ini dipandu dengan sangat apik oleh, Thomas Are, S.Pd, guru Pendidikan Agama Katolik pada SMPN 3 Tanjung Bunga.

Scroll to Top