Peningkatan mutu pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Flores Timur tidak dapat dilepaskan dari tiga aspek penting yang saling berkaitan, yakni kinerja guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), kepemimpinan kepala sekolah, dan budaya organisasi sekolah. Ketiganya menjadi unsur penting dalam membangun proses pembelajaran yang berkualitas, memperkuat profesionalisme guru, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Berdasarkan pandangan dan pengamatan lapangan yang disampaikan Silvester Sina Wuan, Pengawas Sekolah Menengah Pertama pada lingkup Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Flores Timur, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Tantangan tersebut meliputi konsistensi pelaksanaan tugas dan fungsi guru, efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, penguatan budaya kerja profesional, hingga keberlanjutan program peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Catatan ini penting sebagai bahan refleksi bersama bagi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, organisasi profesi, pemerintah daerah, serta para peneliti pendidikan yang ingin memahami dinamika pengelolaan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
Kinerja Guru PNS Masih Memerlukan Penguatan Kompetensi dan Karakter
Menggambarkan kinerja guru PNS pada SMP Negeri di Kabupaten Flores Timur bukan perkara sederhana. Menurut Silvester Sina Wuan, pengukuran kinerja guru secara menyeluruh masih menjadi tantangan, terutama apabila belum menggunakan instrumen pengukuran yang dapat dipercaya.
Oleh karena itu, pandangan mengenai kondisi kinerja guru yang disampaikannya perlu dipahami sebagai penilaian berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah sekolah, bukan sebagai hasil pengukuran kuantitatif yang mewakili seluruh guru PNS di Kabupaten Flores Timur.
“Secara umum, kinerja guru PNS masih berada di level cukup,” demikian gambaran yang disampaikannya berdasarkan pengamatan lapangan.
Penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah persoalan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi guru. Pertama, masih terdapat tugas pokok dan fungsi guru yang belum dilaksanakan secara optimal. Dalam perencanaan pembelajaran, misalnya, perangkat pembelajaran dinilai belum sepenuhnya adaptif dan lengkap. Pada tahap pelaksanaan, pembelajaran cenderung belum interaktif. Sementara itu, hasil asesmen belum selalu ditindaklanjuti dengan langkah perbaikan pembelajaran yang sesuai. Tanggung jawab terhadap tugas tambahan pun masih ditemukan belum dilaksanakan secara bertanggung jawab.
Kedua, konsistensi guru dalam menjalankan tugas profesional masih menjadi persoalan. Menurut pengamatan Silvester, terdapat kecenderungan bahwa kinerja guru menjadi maksimal ketika mendapat pengingat, pemeriksaan, atau supervisi dari atasan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas yang baik belum selalu tumbuh dari kesadaran internal dan kecintaan terhadap profesi guru, tetapi masih dipengaruhi oleh tekanan atau pengawasan dari luar.
Temuan pengamatan ini menempatkan persoalan kinerja guru bukan semata-mata sebagai masalah penyelesaian administrasi, melainkan juga berkaitan dengan pembentukan karakter profesional, tanggung jawab moral, dan kesadaran untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran.
Kompetensi Guru Harus Mengikuti Perkembangan Pendidikan
Silvester menegaskan bahwa terdapat dua aspek mendasar yang perlu diperkuat untuk meningkatkan kinerja guru, yaitu kompetensi dan karakter.
Dunia pendidikan terus berkembang. Karena itu, kompetensi guru harus diperkuat seiring perubahan kebutuhan peserta didik, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tuntutan kurikulum. Apabila peningkatan kompetensi tidak berjalan seiring dengan perkembangan pendidikan, akan muncul kesenjangan antara kemampuan guru dan tuntutan pendidikan pada masa kini. Salah satu akibat yang mungkin terjadi ialah pelaksanaan pembelajaran tidak sesuai dengan amanat kurikulum yang berlaku.
Penguatan kompetensi mencakup kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang interaktif, melakukan asesmen, menindaklanjuti hasil asesmen, serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilan melalui sumber belajar yang beragam.
Namun, kompetensi saja tidak cukup. Karakter profesional menjadi unsur penting yang menentukan bagaimana pengetahuan dan keterampilan tersebut diwujudkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Salah satu persoalan yang disorot Silvester ialah kebiasaan menunda pekerjaan. Menurutnya, terdapat guru yang seolah-olah telah membentuk identitas baru sebagai seorang penunda karena terbiasa menunda pekerjaan dan merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut, tanpa menyadari dampaknya terhadap pendidikan anak.
Persoalan lain ialah motivasi belajar guru terhadap hal-hal baru yang dinilai cenderung lemah. Sebagian guru tampak kurang bersemangat mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru, baik melalui sumber belajar baru maupun melalui orang lain yang memiliki pengalaman atau pendekatan pembelajaran berbeda. Sikap ini pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap rendahnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembelajaran.
Silvester mengakui bahwa masih terdapat berbagai kekurangan lain yang dapat menjadi bahan evaluasi, meskipun tidak seluruhnya dapat diuraikan dalam keterangannya.
Dengan demikian, peningkatan kinerja guru perlu diarahkan pada dua jalur yang berjalan bersamaan: memperkuat kemampuan profesional sekaligus membangun karakter yang tercermin dalam kedisiplinan, konsistensi, kemauan belajar, dan tanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Menentukan Arah dan Iklim Kerja Guru
Selain kinerja guru, kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor penting yang memengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Silvester memandang kepala sekolah sebagai faktor penentu arah, layaknya kompas, sekaligus pengontrol utama terhadap perubahan dan fluktuasi kinerja guru PNS. Peran kepala sekolah tidak dapat dibatasi pada pengelolaan administrasi, penyusunan program, atau pelaksanaan rapat. Kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan memengaruhi kondisi psikologis guru, membentuk budaya kerja, dan membangun kepercayaan dalam organisasi sekolah.
Menurutnya, kepala sekolah yang hanya mampu berbicara mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan perkataannya, berisiko kehilangan kepercayaan guru. Dalam kondisi demikian, kepala sekolah gagal menjadi teladan atau role model bagi warga sekolah.
Sebaliknya, kepemimpinan yang tidak suportif dapat membuat guru merasa tidak sejahtera secara psikologis dan tidak nyaman secara emosional dalam menjalankan tugas. Karena itu, kualitas kepemimpinan perlu dilihat bukan hanya dari program yang dirancang, melainkan juga dari keteladanan, pola komunikasi, dukungan terhadap guru, dan kemampuannya menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Empat Peran Kepala Sekolah yang Belum Berdampak Signifikan
Secara umum, Silvester menilai kepala sekolah di SMP Negeri Flores Timur telah menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran, pembina, motivator, dan penggerak peningkatan mutu pendidikan. Namun, pelaksanaan keempat peran tersebut rata-rata belum memberikan dampak yang signifikan. Masih terdapat sejumlah catatan dalam implementasi teknis di lapangan.
Pertama, peran sebagai pemimpin pembelajaran.
Kepala sekolah dinilai telah mampu memandu rapat guru dengan baik untuk membahas berbagai program dan kejadian di sekolah. Akan tetapi, fokus rapat belum sepenuhnya bergeser dari persoalan administrasi menuju refleksi pembelajaran.
Pendampingan terhadap komunitas belajar juga belum optimal. Demikian pula, upaya membangun diskusi yang berfokus pada pembelajaran berpusat pada murid masih perlu diperkuat. Padahal, forum guru semestinya tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan kelengkapan dokumen, tetapi juga menjadi tempat untuk mengevaluasi strategi mengajar, memahami kesulitan belajar peserta didik, dan mencari solusi bersama.
Kedua, peran sebagai pembina.
Banyak kepala sekolah telah menjalankan pembinaan secara adil, khususnya ketika menghadapi guru yang mengalami persoalan karakter atau penurunan motivasi. Pendekatan persuasif dan konseling personal cenderung didahulukan sebelum pemberian sanksi.
Pendekatan tersebut menunjukkan adanya upaya menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan pembinaan. Namun, Silvester juga mencatat bahwa terdapat kepala sekolah yang melakukan pembiaran terhadap guru tertentu yang memiliki kinerja kurang baik. Ketidakkonsistenan dalam pembinaan ini dapat menjadi persoalan tersendiri karena berpotensi menimbulkan perbedaan perlakuan dan melemahkan budaya tanggung jawab di sekolah.
Ketiga, peran sebagai motivator.
Kepala sekolah dinilai belum maksimal tampil sebagai pemimpin yang suportif. Apresiasi terbuka terhadap prestasi kecil yang diraih guru masih jarang diberikan. Kunjungan ke ruang-ruang kerja guru untuk memberikan motivasi atau sekadar berdiskusi santai juga belum banyak dilakukan.
Menurut Silvester, perhatian dan komunikasi sederhana semacam ini merupakan salah satu strategi untuk menjaga moral kerja tim. Penghargaan tidak selalu harus berupa hadiah material. Pengakuan terhadap usaha, kemajuan, dan kontribusi guru dapat menjadi bagian dari upaya membangun rasa percaya diri serta semangat bekerja.
Keempat, peran sebagai penggerak peningkatan mutu pendidikan.
Kepala sekolah mulai menggerakkan seluruh ekosistem sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Program penguatan literasi, numerasi, mutu pembelajaran, dan karakter telah menunjukkan perkembangan. Namun, peningkatan tersebut belum stabil dari tahun ke tahun.
Salah satu penyebab yang disoroti ialah program peningkatan mutu belum sepenuhnya menjadi budaya mutu sekolah. Dengan kata lain, program perbaikan telah dijalankan, tetapi belum seluruhnya melekat sebagai kebiasaan dan komitmen bersama yang terus berlangsung, terlepas dari pergantian kegiatan, program, atau situasi kepemimpinan.
Kondisi ini memperlihatkan pentingnya mengubah program peningkatan mutu dari sekadar agenda kegiatan menjadi praktik profesional yang dilakukan secara konsisten, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkelanjutan.
Budaya Organisasi Sekolah: Kekeluargaan Kuat, Profesionalisme Perlu Diperkuat
Budaya organisasi merupakan aspek ketiga yang mendapat perhatian dalam pengamatan Silvester Sina Wuan.
Ia menggambarkan budaya organisasi pada SMP Negeri di Flores Timur sebagai budaya yang memiliki karakter kekeluargaan kuat, tetapi masih menghadapi tantangan dalam transformasi menuju profesionalisme.
Hubungan antarguru yang didasari rasa kekeluargaan merupakan modal sosial yang penting. Guru dapat memandang rekan sejawat sebagai keluarga, membangun hubungan interpersonal yang harmonis, serta saling membantu dalam berbagai kegiatan sekolah. Namun, rasa kekeluargaan tersebut belum selalu berkembang menjadi perjuangan bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan sebagai kewajiban profesional seluruh warga sekolah.
Dari aspek kerja sama dan komunikasi, budaya gotong royong dinilai sangat membantu koordinasi kegiatan nonakademik dan menjaga hubungan interpersonal yang baik.
Akan tetapi, efektivitas budaya organisasi pada aspek disiplin dan tanggung jawab masih berfluktuasi. Sejumlah sekolah masih menghadapi kendala rendahnya kedisiplinan guru. Penurunan motivasi juga terkadang dipengaruhi oleh kondisi kesejahteraan psikologis.
Pada aspek komitmen bersama untuk meningkatkan mutu, Silvester melihat bahwa upaya yang agresif lebih tampak pada sekolah-sekolah tertentu yang dipimpin kepala sekolah dengan pola pikir visioner. Sementara itu, banyak sekolah masih menjalankan kegiatan pendidikan sebatas rutinitas dan memiliki upaya kolektif peningkatan mutu yang terbatas.
Bahkan, mengubah cara mengajar guru yang masih konvensional pun dinilai masih menjadi tantangan.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa keharmonisan hubungan sosial di sekolah belum otomatis menjamin terbentuknya budaya kerja yang profesional. Kekeluargaan perlu diarahkan agar menjadi landasan bagi kolaborasi, keterbukaan terhadap evaluasi, disiplin, inovasi pembelajaran, dan tanggung jawab kolektif terhadap hasil belajar peserta didik.
Tujuh Agenda Penguatan Budaya Kerja Profesional Guru
Untuk membangun budaya kerja yang lebih profesional, Silvester mengemukakan tujuh langkah yang dapat diperkuat oleh sekolah. Rekomendasi tersebut mencakup pengembangan kompetensi, tindak lanjut pelatihan, kesehatan psikologis, kepemimpinan suportif, refleksi, apresiasi, dan pola pikir bertumbuh terhadap mutu.
- Mengaktifkan Komunitas Belajar yang Berfokus pada Pembelajaran
Komunitas belajar perlu diaktifkan sebagai ruang kolaborasi profesional antarguru. Forum ini tidak seharusnya hanya membahas administrasi berbentuk dokumen atau kelengkapan kertas.
Sebaliknya, guru perlu memanfaatkan komunitas belajar untuk saling mengoreksi modul ajar, mendiskusikan peserta didik yang mengalami kesulitan membaca dan berhitung, serta berbagi metode mengajar yang menyenangkan dan efektif.
Melalui kegiatan tersebut, komunitas belajar diharapkan menjadi ruang untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam pembelajaran, bukan sekadar memenuhi agenda pertemuan.
- Menyusun dan Melaksanakan Rencana Tindak Lanjut Pelatihan
Setiap kegiatan pelatihan perlu diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut yang dilaksanakan dalam periode tertentu.
Rencana tersebut bertujuan mengingatkan guru agar menerapkan materi yang telah dipelajari, sekaligus memberikan kesempatan untuk memperoleh penguatan dan melakukan perbaikan selama proses implementasi.
Silvester menyoroti bahwa banyak kegiatan peningkatan kompetensi guru tidak memberikan dampak berarti karena tidak diikuti tindak lanjut. Dengan demikian, keberhasilan pelatihan semestinya tidak hanya dinilai berdasarkan keikutsertaan guru, tetapi juga berdasarkan penerapan hasil pelatihan dalam praktik pembelajaran.
- Menyelenggarakan Penyegaran Rohani bagi Guru
Guru juga dapat mengalami kelelahan emosional akibat beban pekerjaan dan persoalan kehidupan. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar tidak terus memengaruhi motivasi dan kualitas pelaksanaan tugas.
Menurut Silvester, guru membutuhkan waktu untuk sejenak melepaskan diri dari beban pekerjaan maupun persoalan hidup, mengisi kembali semangat, dan memperbarui niat dalam menjalankan profesi.
Penyegaran rohani dapat menjadi salah satu bentuk dukungan tersebut. Kegiatan sesekali berupa rekreasi juga dapat ditambahkan sebagai kesempatan untuk memulihkan energi dan mempererat hubungan antarguru.
- Menciptakan Rasa Aman Psikologis bagi Guru
Kepala sekolah perlu menerapkan kepemimpinan suportif dan membangun suasana kerja yang memungkinkan guru menyampaikan pendapat, kritik, serta masukan tanpa merasa terancam.
Setiap rapat evaluasi perlu dibudayakan sebagai ruang aman. Kritik dan masukan hendaknya dihargai sebagai bagian dari perbaikan, bukan langsung dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap pimpinan.
Selain itu, kepala sekolah perlu memberi perhatian pada penerimaan diri guru, hubungan guru dengan orang lain, kebebasan untuk berinovasi, serta kesempatan mengembangkan potensi diri.
Dalam pandangan Silvester, kebutuhan tersebut perlu dipenuhi melalui gaya kepemimpinan yang mendukung perkembangan profesional dan kesejahteraan psikologis guru.
- Membudayakan Disiplin Reflektif
Disiplin guru perlu dibangun melalui perubahan paradigma, dari bekerja karena diawasi menjadi bekerja karena kesadaran dan tanggung jawab moral terhadap anak-anak.
Untuk memperkuat kebiasaan tersebut, sekolah dapat membudayakan refleksi mingguan dengan tiga pertanyaan mendasar:
- Apa yang berhasil dilakukan dalam pembelajaran minggu ini?
- Apa saja yang masih kurang dan perlu diperbaiki?
- Langkah kecil apa yang akan dilakukan pada minggu berikutnya?
Refleksi ini mendorong guru untuk mengenali keberhasilan, mengakui kekurangan, dan merencanakan perbaikan secara teratur. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya berlangsung ketika supervisi dilakukan, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab profesional sehari-hari.
- Membudayakan Apresiasi terhadap Kinerja Guru
Sekolah tidak perlu menunggu tersedianya anggaran besar untuk memberikan penghargaan kepada guru.
Kepala sekolah dapat memulai budaya apresiasi melalui pengakuan verbal atau pemberian sertifikat sederhana di hadapan peserta rapat bulanan. Penghargaan dapat diberikan atas kemajuan pembelajaran, inovasi sederhana, kedisiplinan, kolaborasi, maupun kontribusi positif lainnya.
Menurut Silvester, pengakuan semacam ini dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri profesional guru.
Budaya apresiasi juga diharapkan mendorong guru untuk melihat bahwa usaha dan perbaikan yang dilakukan mendapat perhatian, sehingga semangat untuk berkembang tetap terpelihara.
- Membangun Pola Pikir Bertumbuh terhadap Mutu Pendidikan
Silvester melihat adanya kecenderungan sebagian guru untuk pasrah terhadap keadaan. Pola pikir tersebut perlu diubah menjadi keyakinan bahwa mutu pembelajaran dapat ditingkatkan melalui kreativitas, upaya berkelanjutan, dan kemauan mencoba pendekatan baru.
Guru diharapkan mampu menciptakan strategi dan media pembelajaran sederhana serta memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Keterbatasan fasilitas tidak semestinya langsung menjadi alasan untuk mempertahankan pembelajaran yang monoton dan konvensional.
Melalui pola pikir bertumbuh, guru didorong untuk terus mencari alternatif, mengevaluasi hasil, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. (Humas PGRI Flores Timur)

