
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekologi (KemendikbudRistek) gencar mengkampanyekan Kebijakan Merdeka Belajar. Semengat ini terus dibangun sebagai langkah untuk mentransformasikan pendidikan yang mampu mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang memiliki profil Pancasila.
Peluncuran Program Merdeka Belajar oleh Nadiem Makarim, Menteri KemendikbudRistek sebagai tindak lanjut untuk perbaikan kurikulum 2013. Dalam pernyataan di Tempo.com Februari 2022, Nadiem mengatakan, kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah pengembangan dan penerapan dari kurikulum darurat yang diluncurkan dalam merespon pandemi Covid-19.”Jadi pada intinya kita mengikuti filsafat kemerdekaan, kemerdekaan belajar dan kita memberi sekolah tiga opsi yang bisa dipilih dan diterapkan sesuai kesiapan masing-masing sekolah,”kata Nadiem.
Pernyataan Menteri Pendidikan ini memberi gambaran akan adanya kemerdekaan belajar di tingkat satuan pendidikan. Siswa diberi keluasaan untuk memilih pelajaran yang diminati, demikian pola guru dapat menerapan metode pembelajaran bervariasi yang mampu memenuhi kebutuhan peserta didik. Saat iklim sekolah tumbuh kemerdekaan, sudah pasti bakat minat dan potensi peserta didik dapat dioptimalkan.
Data yang tersaji pada pada website Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal PAUD Dikdas dan Dikmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi terdapat 20 episode merdeka belajar. Dua puluh episode merdeka belajar itu yakni, empat pokok kebijakan merdeka belajar, kamous merdeka, perubahan mekanisme dana BOS,program organisasi penggerak, guru penggerak, transformasi pendidikan untuk perguruan tinggi, program sekolah penggerak, SMK pusat keunggulan, KIP kuliah merdeka, perluasan program beasiswa LPDP, kampus merdeka vokasi, sekolah aman berbelanja dengan SIPLah, merdeka berbudaya dengan kanal Indonesiana, kampus merdeka dari kekerasan seksual, kurikulum merdeka dan platform merdeka mengajar,akselerasi dan peningkatan pendanaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pendidikan kesetaraan, revitalisasi bahasa daerah, merdeka berbudaya dengan dana, rapor pendidikan Indonesia dan praktisi mengajar.
Hemat Penulis, Merdeka Belajar mesti dimulai dari pikiran. Mindset pendidik harus diolah hingga terpola sebagai fondasi yang kuat dalam menopang program Merdeka Belajar. Jalan yang ditempuh pendidik sudah sangat jauh dengan pola lama. Pepatah klasik “ganti menteri ganti kurikulum” masih menjadi trauma yang melemahkan semangat guru belajar hal baru. Mental menerima perubahan diterima baik jika pikirannya telah terpola untuk senang akan tantangan dan siap dengan setiap perubahan.
Gerakan membangun merdeka belajar di Kabupaten Flores Timur sudah mulai diretas melalui kerja sama antara Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur dan Komunitas Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Flores Timur. Sejak awal tahun 2022, Pengawas Sekolah Menengah Pertama bersama Guru Penggerak (GP) dan Pengajar Praktik (PP) menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur untuk mensosialisasikan dan belajar bersama guru -guru SMP dalam penerapan pembelajaran berdiferesiasi. Pembelajaran berdiferesiasi menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa dan memenuhi kebutuhan belajar siswa. Cara ini sebagai sebuah bentuk kongkrit merdeka belajar.
Proses sosialisasi pembelajaran berdiferesiasi berjalan efektif ditandai dengan adanya praktik pembelajaran kreatif di kelas setelah para guru mendapatkan pendampingan. Kesan guru dalam menerapkan Pembelajaran berdiferesiasi yakni pembelajaran yang mampu mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Rana kognitif, psikomotorik dan afektif tersentuh dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Guru tidak mengambil peran sentral dan siswa pasif tetapi proses yang sungguh memberi kemerdekaan kepada anak untuk dapat berkolaborasi dalam belajar. Manajemen kelasnya berjalan efektif.
Pertanyaan reflektif, apakah iklim merdeka belajar dapat tumbuh meluas dan bertahan lama pada sekolah di Kabupaten Flores Timur? Pertanyaan ini bisa dijawab ya..bisa juga dijawab tidak. Ya..jika konsistensi tetap ada di kalangan para guru dalam penerapan metode belajar yang memerdekakan siswa, namun bisa juga jawaban tidak, jika semangat melanjutkan pola pembelajaran yang memerdekakan itu melemah.
Hal yang perlu dilakukan adalah, pendampingan yang berkelanjutan. Jika pada awal semester 2 Tahun Pelajaran 2021/2022 Dinas PKO dan Komunitas Guru Penggerak sudah melakukan pendampingan kepada Bapa Ibu guru se Kabupaten Flores Timur, awal tahun pelajaran baru 2022/2023 sangat disarankan untuk terus dilanjutkan program ini. Berikut, mesti ada pendampingan untuk peserta didik. Jika guru sudah mendapat pendampingan, siswapun demikian. Mesti ada gambaran umum, sehingga ada kesiapan siswa menerima perubahan. Guru dan siswa sejalan. Selain itu, bangun sekolah contoh. Tidak bermaksud memprioritaskan sekolah-sekolah tertentu, tetapi adanya sekolah contoh penerapan merdeka belajar akan memotivasi sekolah lain untuk belajar. Program sekolah penggerak, guru penggerak menjadi agenda prioritas Dinas Pendidikan Flores Timur dalam mendorong Kepala Sekolah dan guru menyambut kurikulum merdeka belajar.
Setiap perubahan sudah dipastikan akan memiliki tantangan tersendiri. Namun, untuk benar-benar mendapatkan perubahan, hal yang tidak boleh diabaikan adalah pendampingan pelaku perubahan di lapangan hingga memiliki kapasitas menciptakan perubahan tersebut.
