
Maksimus Masan Kian/ Ketua PGRI Kab. Flores Timur,NTT
Kondisi Wulanggitang Darurat!
Ibarat sudah jatuh, tertimpah tangga pula. Demikian pepatah klasik yang cocok menggambarkan kondisi Warga Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ini. Bencana erupsi Gunung Ile Lewotobi Laki- laki sejak awal Januari 2024, hingga saat ini belum juga berhenti. Semburan abu vulkanik yang jatuh setiap hari menyebabkan atap seng rumah warga bocor tidak tersisa. Dan saat hujan datang hari- hari ini, semakin memperparah dan mengancam keselamatan Warga khususnya lagi Anak- anak, ibu hamil dan para lansia.
Situasi di Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, ini benar-benar memasuki status darurat setelah erupsi gunung berapi yang terus mengancam wilayah tersebut. Ribuan Anak- anak, ibu hamil dan para lansia secara khusus juga warga pada umumnya menjerit, menangis, sambil berlari menyelamatkan diri di tengah guyuran hujan. Dapat dibayangkan, Wilayah yang terus terkena semburan erupsi gunung berapi, abu vulkanik mengenai atap seng, semua atap seng bocor, datang hujan lebat mengguyur, lumpur masuk rumah, ke mana harus bertenduh? Di bawah pohon? Di dalam pondok? atau di mana? Bagaimana mereka harus menyiapkan makanan? Kesehatan mereka bagaimana?
Kondisi yang Meharukan
Anak-anak berlari kecil dengan langkah-langkah tergesa. Wajah-wajah mungil mereka penuh ketakutan, beberapa di antaranya batuk-batuk terkena debu vulkanik yang meresap ke dalam napas mereka. Mata mereka terbelalak, mencari perlindungan. Tangan-tangan kecil mereka menggenggam erat baju ibu-ibu mereka. Tubuh-tubuh kecil itu basah kuyup oleh hujan, sementara abu terus turun, bercampur dengan air, berubah menjadi lumpur yang lengket di tanah.
Ibu-ibu hamil dengan perut buncit berusaha tetap kuat, meski setiap langkah terasa berat di atas jalanan yang licin dan tergenang. Beberapa dari mereka menggunakan kain sarung untuk menutupi kepala dan perut, melindungi diri dan bayi dalam kandungan mereka dari hujan dan abu yang menyengat kulit. Nafas mereka terengah, tapi langkah mereka tak berhenti, terus mencari tempat aman—satu-satunya harapan yang mereka miliki di tengah alam yang tampak tak bersahabat.
Di belakang mereka, para lansia bergerak pelan, tertatih-tatih di bawah hujan yang semakin deras. Beberapa dari mereka dibantu oleh tetangga, cucu, atau kerabat yang lebih muda. Dengan tangan yang bergetar, mereka memegang tongkat atau pundak orang yang mendampingi. Abu yang turun terasa begitu berat di pundak mereka, membuat langkah semakin sulit. Namun, tak ada pilihan selain terus bergerak, meninggalkan rumah.
Butuh Pertolongan Segera!
Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur mengatakan, di tengah bencana yang melanda Kecamatan Wulanggitang, peran pemerintah menjadi garda terdepan dalam melindungi warganya, terutama anak-anak, ibu hamil, dan para lansia yang paling rentan terhadap bahaya yang terus mengancam. “ Gunung Ile Lewotobi meletus sejak awal 2024 dan hingga saat ini belum berhenti. Kondisinya diperparah dengan abu vulkanik yang panas membuat atap seng rumah warga bocor tidak tersisa. Saat datang hujan, abu yang terus turun, bercampur dengan air, berubah menjadi lumpur yang lengket di tanah. Warga berlari untuk mendapat perlindungan. di tengah bencana seperti ini, peran pemerintah Kabupaten Flores Timur menjadi garda terdepan dalam melindungi warganya, terutama anak-anak, ibu hamil, dan para lansia yang paling rentan terhadap bahaya yang terus mengancam. Gunung yang terus Meletus, semburan abu vulkanik yang menyebabkan atap seng bocor, hujan deras yang tidak memberi jeda, mestinya mendorong pemerintah bergerak cepat, berusaha memberikan perlindungan dan bantuan secepat mungkin. Jika kemampuan daerah tidak bisa mengatasi kondisi bencana alam saat ini, komunikasi intens kepada pemerintah pusat bisa menjadi solusi menolong Warga di Kecamatan Wulanggitang. Mari semua elemen masyarakat mendukung dan mendokan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur agar bisa mendapatkan solusi segera dengan hasil yang baik untuk keselamatan warga,”kata Maksi. (Humas PGRI Flores Timur)
